Langsung ke konten utama

Pentingnya Memilah Kata Dalam Berucap

This post will contain just rant, pure rant.



Gue disini cuma mau keluarin uneg-uneg gue aja sih tidak bermaksud untuk nyinyirin orang atau apa. Jadi begini, kita bebas sekali bicara apa aja yang kita mau tanpa harus mengkaji kalimatnya terlebih dahulu. Kita bebas bagaimana mau mengekspresikan kesetujuan maupun ketidaksetujuan kita terhadap sesuatu. Kita bebas bagaimana mau mengkritik seseorang atau sesuatu.

Kalau berbicara soal pengecut, gue rasa semua manusia punya sifat tersebut. Mereka punya ketakutan jika yang mereka lakukan akan diketahui oleh orang lain. Mereka punya ketakutan kalau mereka ngelempar seseorang pake batu, orang tersebut akan marah. Maka dari itu mereka lebih memilih untuk tetap ngelempar orang tersebut dengan batu, tapi kali ini menutupi kepalanya dengan kardus. Ketimbang mengurungkan niat dan ngebuang batu yang udah digenggam di tangan mereka.

Mungkin juga karena manusia itu naturalnya memang suka bergosip dan mencari-cari keburukan orang lain. Yaa maybe. Kita suka sekali mencari-cari kesalahan orang lain, kita suka sekali mencari dosa orang lain, kita senang sekali memperolok orang lain, dan kita senang sekali mengekspos satu orang untuk dijadikan bahan cacian dan tertawaan. Tapi karena kita itu pengecut, maka kita memilih untuk mengolok-olok orang tersebut beramai-ramai bersama dengan para pengecut lainnya. Apa ya jadinya.. mereka tuh, ketimbang menyalahkan diri sendiri dan mencoba introspeksi, mereka malah ngelempar amarah tersebut ke orang lain gitu lho.

Satu hal yang nggak mereka sadari adalah mereka ga sadar kalau orang yang mereka olok-olok, suatu saat akan baca kalimat-kalimat tersebut. Ada orang yang beneran manusia, dan orang tersebut punya hati, punya perasaan. Bisa aja lho mereka tersinggung, marah, dan bahkan ngerasa sedih pas baca tulisan-tulisan itu.

Mungkin sekarang orang-orang menganggap berbicara asal itu sudah biasa, mungkin standar orang akan kesopanan itu sudah bergeser karena ada orang yang berbicara "anjing" itu udah biasa. Lewat internet.. semudah itu lho nyerang orang lain. Tapi di sini gue juga tau. Namanya juga era digital. Semua orang berhak bersuara. Mau suaranya itu sebenernya perlu atau nggak, yang penting ngomong. Dan yang lebih mirisnya, kebanyakan dari si korban memilih untuk diam. Karena memang kalau diladenin juga nggak akan ada habisnya.

Gue percaya ada kalanya orang-orang aneh yang nggak tau sopan-santun ini harus diedukasi dan disadarkan bahwa kalau berbicara, mau di dunia manapun, sama aja caranya. Tapi di satu sisi, gue nggak tau cara yang seperti apa yang paling bisa menyadarkan mereka. Karena biasanya orang-orang yang kayak begini hatinya udah tertutup. Mungkin karena, dengan percaya dirinyaa kita beranggapan semua itu nggak akan ada konsekuensinya kelak. Padahal sebagai manusia beragama, konsekuensi bertutur kata buruk itu sudah jelas. Tapi mungkin karena Tuhan itu nggak keliatan kali, ya. Jadi kita nggak setakut itu dengan konsekuensi yang udah Tuhan janjikan.

Gue masih percaya kita bisa mengubah keadaan yang sekarang ini menjadi lebih sehat. Gue masih percaya diam ketika menjadi korban itu tidak memberikan solusi, itu malah membuat semua itu seakan-akan adalah hal yang biasa. We have to speak up. Dan iya, gue yakin kita bisa mengedukasi orang-orang untuk berlaku baik kepada sesamanya. Gue tau itu terlihat mustahil, tapi gue yakin pasti bisa.

Gue cuma bisa berharap, kalo kita tuh nantinya bakal bisa lebih kritis dalam ngelakuin semua hal. Kritis dalam hal-hal yang kita lakuin dan lebih memilih untuk mengerjakan hal yang lebih berfaedah. Gue tidak bermaksud untuk menggurui. Enggak sama sekali. Gue cuma mau bilang kalo mindset "gua tidak bersalah" akan membawa lo menjadi pribadi yang tidak baik, yang kayak gitu yang bikin jiwa kita rusak. Karena itu bisa bikin kita lupa kalo yang paling penting itu gimana kita menjadi individu yang baik, yang memperlakukan orang lain dengan baik, yang berkelakuan baik, dan yang menyebarkan hal-hal baik.

Satu hal yang pengen gue tanemin didiri gue. Gue pengen tetep beranggapan bahwa mereka adalah individu masing-masing dan mereka punya hak sepenuhnya dalam memilih mau jadi manusia seperti apa mereka. Gue berharap gue bisa beranggapan yaudah terserah lo, tapi gue udah kasih tau hal itu tidak baik.

Sekian ocehan gue kali ini. Bye.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pangan Lokal

Halo teman-teman, setelah beberapa lama akhirnya saya memberanikan diri untuk memulai kembali menulis blog disini. Selama 6 bulan terakhir saya bekerja di Griya Arum Ayu Local Food yang mengolah produk makanan yang berasal dari bahan-bahan lokal. Selain itu juga disana saya ikut serta dalam sosialisasi pangan lokal melalui beberapa pelatihan yang diadakan disana. Berikut beberapa dokumentasi yang ingin saya bagikan Pelatihan Pengolahan Pangan Lokal Wanita Tani Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat Bersama PUSPITEK dan ARUM AYU. 23-25 September 2019. Dalam Rangka Peningkatan Kompetensi Guru Keterampilan Tataboga Program Revitalisasi Vokasi Bersama SK AS-SALAM 02 dan ARUM AYU. 7-11 Oktober 2019. Bina Kreativitas Perempuan Melalui Pelatihan Tataboga Pangan Lokal Dalam Rangka Meningkatkan Peran Serta dan Kesetaraan Gender Bersama DPMP3AKB KOTA TANGSEL dan ARUM AYU. 17-28 Februari 2020. Ketiganya adalah pengalaman yang sangat berkesan bagi saya, bisa be...

Ada Apa Sih Dengan Gluten di Tepung Terigu??

Apa itu gluten? Ketika saya masih di sekolah, saya belajar sedikit mengenai gluten. Pada saat itu saya hanya mengetahui bahwa gluten sebagai kandungan yang terdapat dalam tepung terigu. Namun belum mengetahui lebih jelasnya kenapa sebaiknya kita mengurangi konsumsi gluten ini. Setelah bergabung dengan Arum Ayu, saya banyak belajar lagi tentang gluten dan pangan lokal. Nah, gluten merupakan senyawa protein yang terdiri dari glutenin dan gliadin, adalah sejenis protein yang terdapat pada gandum dan tepung terigu. Gluten mengandung komponen protein yang disebut peptida. Gandum mengandung peptida. Begitu juga dengan tepung terigu. Bingung kan? Hehehe Oke lebih singkatnya, dalam proses pengolahan makanan, fungsi gluten adalah untuk menghasilkan tekstur yang kenyal, elastis, dan mengembang pada makanan (seperti roti dan kue). Efek elastis, kenyal, dan mengembang tersebut dihasilkan ketika tepung dicampurkan dengan air. Protein gluten akan membentuk jaringan-jaringan yang lengket...

#1

Rasanya sudah cukup aku membicarakan hal yang usang itu. Pengalaman yang memberikan pelajaran, rasa sakit, hal konyol sekaligus malah jadi bahan ketawaan ya kan. Haha. Yang ku fokuskan sekarang adalah keadaan aku, kita, saat ini. Aku yang dimasa lalu pernah dikecewakan berkali-kali, bahkan mungkin sekarang di sudut hati yang paling terpencil masih ada sisa-sisa luka itu. Ya, itu wajar. Mengapa tidak begitu kan, aku berkali-kali terluka hebat dikesalahan yang sama. Sampai akhirnya aku memilih untuk berhenti. Udahlahya. Yang lalu biarlah berlalu. Aku lebih suka menatap masa depan bersama kamu. Cieee.  Terakhir kali, ditanya "kamu baik-baik aja kan?" Jujur aku malah ketawa denger pertanyaan itu. Ya mungkin dulu dulu mah kalo ada yang nanya gitu auto nangesss. Jadi mikir, aku dimasa-masa itu mengusahakan untuk baik-baik aja, tapi sekarang jauh lebih baik dari harapan itu. Banyak hal yang ku syukuri, dengan pengalaman yang nggak enak itu aku menemukan banyak hal baru. Salah satuny...