Dulu tiap kali aku bingung, kesal atau sedang menghadapi masalah besar atau kecil aku selalu langsung terpikirkan untuk bercerita ke dia. Aku merasa dia jawaban dan solusi untuk masalah/kondisi hati yang aku sedang hadapi. Dia selalu memvalidasi, memeluk dan mengerti yang aku utarakan. Dia selalu merangkumkan, menjabarkan dan menjelaskan sebab dan solusi menurutnya. Dia selalu bisa menasehati tanpa menghakimi. Dia selalu bisa membuat aku merasa tidak bersalah karena memiliki perasaan yang menurutku salah. Dia selalu bisa memeluk aku hangat lewat kata-katanya. Dia selalu bisa menjunjung aku sebagai manusia, memuji aku, membuat ego yang dinamakan "bangga" itu kembali pada diri. Tidak lupa, dia pun bisa menampar dengan kata-kata faktanya. Dan itu selalu membuat aku tersadar, akan langkah selanjutnya. Sekarang, Belum ku temui seseorang seperti kamu. Ternyata, Aku kehilangan kamu, sahabatku.
Kami menikah di akhir tahun lalu, 29 Desember 2024 —menutup tahun dengan janji, membuka hidup baru dengan harapan. Setelah menikah, aku ikut suami tinggal di kontrakan kecil yang menjadi saksi awal kami belajar hidup bersama. Kami menjalani kehidupan yang sederhana, aku di rumah menjaga dan merawat yang ada, menyiapkan makan, menyambut suami pulang kerja yang kadang datang dengan mata lelah tapi tetap membawa senyum dan pelukan hangat ketika kembali ke rumah. Malamnya, dia lanjut kerja sampingan hingga larut malam kadang sampai waktu fajar. Sebenarnya, sebelum menikah kami merencanakan beberapa kegiatan berdua. Berlibur, menjelajahi tempat lain, berburu makanan yang cantik dan enak. Tapi satu bulan setelah menikah… alhamdulillah, Allah memberi kami amanah yang tak tergantikan, kejutan terindah, aku hamil. Rezeki yang datang lebih cepat dari dugaan, tapi tepat pada waktunya. Di satu sisi, kami bersyukur luar biasa. Tapi kadang juga terlintas, "Waktu berdua kami kok terasa cepat ba...