Hi guys! Assalamualaikum, kali ini gue kayaknya mau nulis banyak deh, double post mungkin, atau bisa nyampe 3 judul berbeda. Atau semua disatuin dalam satu judul, I dont know...
Banyak banget yang mau gue omongin hari ini.
Sebelumnya, gue mau kasih tau buat yang belum baca post gue tentang pernikahan.. kalian bisa klik disini 👇
Marriage (versi gue)
Oya, doi juga nulis pandangan dia tentang pernikahan, semacam respon ditulisan gue sebelumnya. Tapi lebih karena dipaksa sama gue haha. Ok gue taro linknya di bawah 👇
Marriage (versi dia)
Kali ini, gue mau bahas apa ya, rambling aja deh pokoknya. Banyak banget sih yang mau diomongin.
Pertama.
Berkeluarga itu butuh kesiapan yang luar biasa. Dalam berkeluarga, bukan hanya ah gue nikah nihh tapi juga bagaimana caranya kita menjalani pernikahan itu sendiri. Bagaimana kita memperlakukan pasangan, memperlakukan anak, keluarganya doi, ya semuanya harus seimbang. Supaya enggak berat sebelah dan akhirnya oleng terus jatoh. Apasi?! :v
Makanya kalau mau nikah tuh, ya gausah buru-buru. Karena ya, setiap orang punya target sekaligus ujiannya masing-masing di setiap jenjang sih.
Orang yang bujang targetnya adalah ingin menikah, dan (salah satu) ujiannya adalah bersabar menahan hubungan biologis sampai waktunya tiba.
Orang yang udah menikah targetnya adalah memiliki keturunan, ujiannya adalah bersabar ketika momongan belum juga datang.
Pria yang udah punya satu istri, ingin punya istri lagi. Ujiannya macem-macem.. :v ngga semua pria begini sih, tapi kebanyakan ya begini XD
Beberapa alasan orang melakukan pernikahan, ada yang emang karena waktunya, karena ke imanannya kuat, ada yang terpaksa dan ada yang lainnya. Orang dewasa biasanya bisa menentukan arah hidup, jalan, membuat rute sendiri untuk hidupnya. Gak mesti jadi follower orang lain juga. Lagian nikah itu soal kesiapan.
Salah satu sodara gue, sudah berumur, dia belum menikah. Dan tiap kali ngumpul lebaran ada aja yang ngecengin, terus juga.. om gue disini, hampir tiga tahun menikah. Belum dikaruniai momongan, terus kan si ante pas kalo liat anak kecil suka nangis gitu (enggak yang dramatis banget). Yaa apa ya, gue juga ikut merasakan sih.
Tapi ya yang mau gue bilang disini, 'hidup kita gak harus sama kayak orang lain. Kita ga mesti jadi follower orang lain, kalo bisa tuh kita jadi trend setter' :v dan kata-kata itu selalu terngiang di benak gue and makes me enjoy my life.
Tapi yang gue lihat, lingkungan dan masyarakat seakan nuntut untuk kita cepat-cepet berpindah ke jenjang/tahap hidup selanjutnya. Seakan-akan kita harus ngikutin pola yang udah ada di masyarakat.
'Dan kenapa kita harus ngikutin pattern yang udah ada' itu sih yang menurut gue juga paling aneh. Seakan-akan kita dianggap 'berbeda' ketika punya pattern yang lain. Orang yang dianggap berbeda dari pattern tersebut dilabeli sebagai 'the others'. Padahal, setiap orang punya pilihan, prioritas dan visinya sendiri, yang belum tentu sama dengan orang lain.
I think it is because of what society perceived as a "life success". Finish college, get a job, get married, have kids, pay loans, and die peacefully. It's not that kind of perception are wrong, it's just that some people have their way to enjoy their own life.. (bukan karena jago bahasa inggris, tapi pake translate :v)
Ya iya, semua orang juga pengen gitu. Tapi kapasitas tiap orang kan beda. Masalah yang sama gak bisa diatasi dengan cara yang sama oleh semua orang.
Enggak tau kenapa sih ya, dari dulu emang gue tuh suka banget merhatiin hal-hal yang sebenernya ga perlu dipikirin dan gue perhatiin. Ya seru aja gitu, gue bisa lihat anehnya dunia ini anehnya kehidupan ini, dan ternyata manusia itu banyak ragamnya. Dan hal itu yang membuat dunia ini unik. Jadi ya, we have to focus in own life, right? Gausah ngikutin orang lain..
Balik lagi mengenai pernikahan, siapa pun yang kita nikahi, tentu saja, sedikit banyak akan berbeda kepribadiannya dengan kita. Walaupun kesempurnaan itu enggak ada, pasti setiap orang menginginkan pasangan yang terbaik mulai dari fisik hingga kepribadiannya.
Oya, gue nemu satu artikel yang membahas tentang teori menikah kali ya, gue taro linknya dibawah 👇
The school of life
Setuju sih sama yang dia bilang, hal yang pertama yang harus kita tau dalam memilih pasangan adalah kita harus mengerti diri kita sendiri. Kita harus bisa mengukur seberapa rendahnya tingkat kedewasaan kita dalam menangani masalah dan mengendalikan emosi.
Dengan tingkat pemahaman yang buruk tentang karakter kita, enggak heran kalo kita enggak tau siapa yang harus kita seriusin. (Cie)
Mungkin kita sebagai manusia (sebagian aja mungkin) akan cenderung marah ketika seseorang tidak setuju dengan pendapat kita.
Nah, disinilah, kita membutuhkan pasangan yang bisa memahami kita. Bisa meredam emosi kita, bukannya malah kita emosi dia juga emosi balik. (Emang susah sih buat diaplikasikannya)
Oleh karena itu, tugas utama dari setiap pasangan menurut gue, adalah untuk menangani secara spesifik dimana mereka berada disituasi terburuk sekalipun (dalam menghadapi pasangannya). Apalagi dalam suatu hubungan itu pasti akan ada, dimana kita berbeda pendapat. And it's not all about winning guys. Kalo masih mengandalkan ego, gue ga mau kalah dalam argumen ini. Itu adalah hal yang salah sih.
Selain itu juga kita harus memahami pasangan. Yaiyalah jangan hanya mau dimengerti tapi tidak mau mengerti.
Untuk bisa memahami tersebut, kita perlu untuk mengenalnya terlebih dahulu. Maka dari itu sih, harus ada yang namanya proses pengenalan.
Karena kita perlu mengetahui sikap mereka, pendiriannya, pandangan dia terhadap kehidupan/society, dan ratusan hal lainnya. Dan ya, pengetahuan ini tidak akan tersedia hanya melalui obrolan standar.
Apalagi nanti, ketika kita sudah berumah tangga, pasti akan ada konflik, akan dipenuhi konflik. Dan itu enggak bisa dipungkiri, enggak peduli apakah kamu orang yang berkecukupan dalam harta atau kurang, apakah kamu seorang yang sholeh--sholehah atau minim wawasan, apakah kamu orang yang berprestasi dalam banyak hal atau bukan. Enggak bisa enggak. Pasti akan terjadi.
Saling diam, saling membelakangi, saling buang muka. Ada yang hitungan jam, ada juga yang hitungan hari. Urusan yang super sepele bisa menjadi besar. Yang logis menjadi enggak logis.
Tips untuk mengatasinya, laki-laki harus banyak berkorban. Kamu, sebagai suami, harus lebih banyak diam. Diam yang elegan, bukan karena diam tidak mampu lemah tidak berdaya. Diam disini maksud gue tuh cukup pake kalimat yang padat jelas dan tegas. Bukannya malah ngorek--ngorek kesalahan--kesalahan lainnya terus seolah-olah nyudutin gitu..
Kalau perempuan digituin sih, kayaknya bukan malahan jadi menghormati deh.. malah ntarnya si cewek ini bakalan jadi berani pake suara lebih tinggi melebihi suara suami. Dan itu juga bakalan jadi boomerang buat si suaminya. Untuk keduanya juga.
Untuk kamu, seorang suami. Korbankan waktu, perasaan, dan pikiran untuk rumah tangga kamu (istri maksudnya). Harus selalu bilang “oke” ke istri, apapun yang dia mau. Jangan pernah bilang “enggak” (rada egois sih memang). Kalau kamu lagi enggak mau nurutin permintaan istri ya intinya jangan bilang “enggak”, pilihan yang tepat untuk menolak adalah di-am.
Mengambil keputusan adalah hak mutlak suami, (eumm walaupun not every decision I think) selama bukan kemaksiatan maka istri enggak punya pilihan selain ikut suami, itu dalam teori. tapi faktanya enggak begitu.
Istri tetaplah manusia, sebagus apapun wawasannya terhadap Islam, seluas apapun pemahamannya terhadap hak dan kewajiban suami--istri, dia tetaplah manusia. Dia “enggak akan peduli” dengan dalil-dalil dan ajaran dalam Islam.
Maka dari itu sih, suami harus banyak berkorban. Tapi tetep. Istri juga lama-kelamaan harus belajar juga.. ya janganlah sampe tiap ada masalah suami terus yang ngalah. Walaupun manusia ada yang kayak malaikat tapi yaa namanya juga hati manusia. Kadang ada lelahnya kan?
Mayoritas perempuan itu logikanya lebih lemah dari laki-laki, itu juga kayaknya semua orang udah pada tau. Kita para perempuan (karena gue juga perempuan 😂), enggak akan bisa dengan cepat membaca pola. Kalaupun udah bisa ngebaca pola, kita tetap akan mendahulukan perasaan ketimbang logika. Contohnya, kita sudah tahu harus melakukan apa, tapi kita tidak langsung melakukannya karena mendahulukan perasaan itu tadi.
Sesuatu yang belum terbiasa itu butuh dilatih. Bisa karena biasa. Kamu (seorang suami) harus bantu dia (seorang istri) melatih hal-hal tersebut. Misal, kalau lagi ada sesuatu yang error terjadi dan disebabkan oleh suami, istri pasti marah ke suami.
Suami mikirnya sederhana, “Udah terjadi, ya sabar, mau marah-marah juga enggak akan menyelesaikan masalah, cukup dijadikan pelajaran supaya enggak terulang lagi.”
Istri enggak begitu, istri harus ada yang bisa dilampiaskan. Ini juga gue aneh (mungkin karena sifat alami perempuan kayak begitu kali ya).
Ketika istri melampiaskan itu, suami diam saja. Sampaikan satu-dua kalimat yang tegas, setelah itu diam. Itu adalah diam yang tegas, bukan diam yang lembek seperti membiarkan sesuatu.
Setelah itu istri akan mikir.
And repeat again.
Hal-hal semacam itu akan berulang terus, suami cukup lakukan hal yang serupa. Sampai pada titik dimana cara istri melampiaskan hal-hal itu semakin berkurang, semakin berkurang, semakin berkurang. Di sini istri udah bisa bersikap dengan lebih bijak.
Biasanya butuh waktu lama untuk bisa mendidik istri menjadi bijak untuk hal ini saja. Masih banyak hal lain yang suami harus juga lakukan untuk mendidik istri menjadi lebih baik. Yaa sing sabarlah ngedidiknya.
...
Temen gue (yang sudah berkeluarga) ada yang bilang : “Perempuan itu seneng banget diajak ke pasar ya.”
Dan emang iya, perempuan itu bahagia kalau diajak belanja, diajak shopping, pilih sendiri, tawar sendiri, enggak diganggu sama anak-anaknya. Walaupun kadang cuma liat-liat (enggak beli:v) perempuan sudah bahagia (gue pilih kata bahagia karena kayaknya kata ini satu level lebih tinggi derajatnya dari kata senang). Biasanya sih kalau cuma liat-liat (doang) sampai di rumah merengek minta dibeliin. (Gue banget!)
Yaa sesekali-lah kamu sebagai suami yang ngajak istri ke pasar, diantar, dibonceng, ditemenin dari satu lapak ke lapak yang lain, dibawain belanjaannya. Kalau pas sudah ada anak ya anaknya juga dibawa sambil digendong sama ayahnya, biar istri bisa fokus belanja. Ya intinya istri bisa leluasa ngapa-ngapain tanpa beban, itu salah satu bentuk kebahagiaan buat dia lho. Buat kami para perempuan, belanja itu hiburan yang menyenangkan. (Tapi inget juga isi dompet yaa)
Dengan melakukan hal itu tadi, istri akan merasa diperhatikan. Kuncinya, ketika melakukan kebahagiaan ini suami juga harus total, jangan sambil main HP, fokus ke hal lain, dll.
So, buat para suami nantinya, jangan pernah pasang muka cemberut atau gelagat tidak senang ketika ada sinyal-sinyal mau berangkat ke pasar atau mau belanja. Tidak harus setiap hari, yang penting rutin dan selalu dalam keadaan ceria.
...
Kita dan pasangan berasal dari latar belakang yang bisa dibilang sangat berbeda. Ada banyak hal-hal yang tidak selaras pastinya. Pertengkaran seringkali muncul karena masalah perbedaan ini.
Proses menyamakan diri ini menjadi salah satu ujian juga yang harus diselesaikan. Salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk menyamakan diri ini bisa dengan cara mengikuti sebuah seminar bertemakan family, parenting, dan sejenisnya.
Jangan deh ngirimin link melalui WA atau FB, percayalah ini cara yang enggak bagus meski maksud kamu menasihati. Karena menurut pengalaman gue, artikel itu "hanya akan dibaca aja." Saran nih saran, didik dia sambil kamu mencontohkannya juga.. ini akan berbeda dengan kita baca artikel panjang-panjang dan otak nih, "ohh iya yaa" udah gitu lupa lagi, lahh.
...
"Atu dia mah masak mah lain pagawean lalaki 😄"
Gue gemez sih, sama salah satu temen yang bilang begini.. mau unjuk gigi jadinya :v
Kalau ada yg bilang laki-laki gaboleh ngerjain pekerjaan rumah atau perempuan ga boleh bekerja. Itu salah besar.
Selama bisa melengkapi kenapa harus dikodratkan seperti itu? Bukannya tujuan dari keluarga adalah saling melengkapi?
Melengkapi bukan berarti malah menjadi bertukar kodratnya antara suami dan istri.
Suami bertanggung jawab atas keluarganya, kewajibannya mencari nafkah dan mengayomi keluarganya.
Sedangkan istri bertanggung jawab di dalam rumah, mengurusi keluarga dan sebagainya. Begitulah seharusnya.
Akan tetapi kodrat suami dan istri juga tidak menutup kemungkinan untuk suami melakukan pekerjaan rumah atau istri juga membantu perekonomian keluarga..
Misalnya suami lagi ada waktu kosong, mau bebersih rumah itu gpp. Justru menambah keharmonisan keluarga.
Contoh lain sang istri membuka usaha, asalkan sesuai dengan perizinan dan peraturan suami itu tidak apa apa. Justru bisa menambah perekonomian keluarga.
Jadi, di sini intinya kita tidak boleh melarang sesuatu jika suami atau istri mau melakukan tugas yang bukan sesuai kodratnya, asalkan sesuai dengan aturan yang berlaku. Selama tidak menyimpang itu tidak masalah.. Itulah salah satu makna "Saling Melengkapi" (ngutip dari doi)
Setuju banget sama pendapat dia.
Yang perlu digaris-bawahi disini adalah urusan rumah tangga adalah tugas utama istri. Tapi bukan berarti ini menjadi alasan bagi suami untuk tidak bisa masak, mengurus anak, ganti baju anak, sapu-pel dan semacamnya.
Tetap, suami harus punya skill urusan rumah.
Jadi kalau istri lagi enggak capable melakukan tugas utamanya untuk mengerjakan pekerjaan rumah, suami bisa gantiin, begitu juga sebaliknya. Kita bisa jadi team partner.
Yang menjadi tidak wajar adalah ketika derajatnya disamakan. Suami harus mau dan harus siap kapan saja me-ngurus-i pekerjaan rumah. Ya, ini menjadi tidak wajar. Laki-laki tidak bisa ditempatkan di posisi ini. (Ngutip dari temen)
Betul banget. Yang menjadi masalah menurut gue adalah ketika istri ternyata tidak siap menjadi seorang istri. Dikit-dikit “Tolong dong masakin, tolong mandiin, tolong angkatin, tolong jemurin, tolong.. tolong.. tolong.” Sedangkan ia tidak memperhatikan apa yang sedang dilakukan suami saat itu. Ia tidak peduli suami sedang menerima telepon, suami sedang mencatat sesuatu, suami sedang di depan laptop, atau ngutik-ngutik HP.
Yang ada dalam pikirannya adalah tidak mau tau, pokoknya segera tolong! Kalau perlu pakai jurus bentakan dengan kekuatan 100 desibel (dB) yang cukup untuk menggetarkan lutut suami. Ini parah sih.
Suami itu adalah kehormatan keluarga. Kalau suami disuruh ini-itu, apalagi dibentak, secara tidak langsung kehormatan keluarga akan pudar, dan mental suami menjadi hilang.
Hilang juga pikiran dan jiwanya sebagai seorang imam. He doesn’t care about his family. Semakin sering diperlakukan dengan “tidak layak”, semakin lemah juga kemampuannya dalam memimpin.
Seorang istri mau minta tolong ke suami, harusnya mikir-mikir dulu, lihat-lihat sikon, baca raut wajah suami apakah suami sedang serius pada sesuatu, atau sedang santai. Yang kita juga harus berusaha dengan hati-hati menggunakan kalimat yang diatur/ditata saat meminta tolong padanya.
Gunakan kata-kata yang seolah bukan kalimat perintah, bukan kalimat seorang makmum yang memerintah imam. Selalu diawali dengan “bisa minta tolong bla bla bla..?”
Pakailah kalimat tanya. Bijak. Beri mereka pilihan untuk menerima dan menolak permintaan tolong kita. Dan apalagi, jika disertai intonasi yang lemah-lembut. Sebagai seorang laki-laki normal, menolak permintaan dengan kalimat yang semacam itu adalah pantangan.
Tentu saja kalimat ini akan berbeda jika to the point “gantiin popok si dede dong!”
...
Masih banyak lagi yang mau gue taro ditulisan ini, tapi kayaknya akan menjadi panjang banget kalau semua disekaligusin. Kali ini, segini dulu.
Bahasan tentang pernikahan, akan berlanjut XD 👉👉 tunggu postingan selanjutnyaa 💙
Banyak banget yang mau gue omongin hari ini.
Sebelumnya, gue mau kasih tau buat yang belum baca post gue tentang pernikahan.. kalian bisa klik disini 👇
Marriage (versi gue)
Oya, doi juga nulis pandangan dia tentang pernikahan, semacam respon ditulisan gue sebelumnya. Tapi lebih karena dipaksa sama gue haha. Ok gue taro linknya di bawah 👇
Marriage (versi dia)
Kali ini, gue mau bahas apa ya, rambling aja deh pokoknya. Banyak banget sih yang mau diomongin.
Pertama.
Berkeluarga itu butuh kesiapan yang luar biasa. Dalam berkeluarga, bukan hanya ah gue nikah nihh tapi juga bagaimana caranya kita menjalani pernikahan itu sendiri. Bagaimana kita memperlakukan pasangan, memperlakukan anak, keluarganya doi, ya semuanya harus seimbang. Supaya enggak berat sebelah dan akhirnya oleng terus jatoh. Apasi?! :v
Makanya kalau mau nikah tuh, ya gausah buru-buru. Karena ya, setiap orang punya target sekaligus ujiannya masing-masing di setiap jenjang sih.
Orang yang bujang targetnya adalah ingin menikah, dan (salah satu) ujiannya adalah bersabar menahan hubungan biologis sampai waktunya tiba.
Orang yang udah menikah targetnya adalah memiliki keturunan, ujiannya adalah bersabar ketika momongan belum juga datang.
Pria yang udah punya satu istri, ingin punya istri lagi. Ujiannya macem-macem.. :v ngga semua pria begini sih, tapi kebanyakan ya begini XD
Beberapa alasan orang melakukan pernikahan, ada yang emang karena waktunya, karena ke imanannya kuat, ada yang terpaksa dan ada yang lainnya. Orang dewasa biasanya bisa menentukan arah hidup, jalan, membuat rute sendiri untuk hidupnya. Gak mesti jadi follower orang lain juga. Lagian nikah itu soal kesiapan.
Salah satu sodara gue, sudah berumur, dia belum menikah. Dan tiap kali ngumpul lebaran ada aja yang ngecengin, terus juga.. om gue disini, hampir tiga tahun menikah. Belum dikaruniai momongan, terus kan si ante pas kalo liat anak kecil suka nangis gitu (enggak yang dramatis banget). Yaa apa ya, gue juga ikut merasakan sih.
Tapi ya yang mau gue bilang disini, 'hidup kita gak harus sama kayak orang lain. Kita ga mesti jadi follower orang lain, kalo bisa tuh kita jadi trend setter' :v dan kata-kata itu selalu terngiang di benak gue and makes me enjoy my life.
Tapi yang gue lihat, lingkungan dan masyarakat seakan nuntut untuk kita cepat-cepet berpindah ke jenjang/tahap hidup selanjutnya. Seakan-akan kita harus ngikutin pola yang udah ada di masyarakat.
'Dan kenapa kita harus ngikutin pattern yang udah ada' itu sih yang menurut gue juga paling aneh. Seakan-akan kita dianggap 'berbeda' ketika punya pattern yang lain. Orang yang dianggap berbeda dari pattern tersebut dilabeli sebagai 'the others'. Padahal, setiap orang punya pilihan, prioritas dan visinya sendiri, yang belum tentu sama dengan orang lain.
I think it is because of what society perceived as a "life success". Finish college, get a job, get married, have kids, pay loans, and die peacefully. It's not that kind of perception are wrong, it's just that some people have their way to enjoy their own life.. (bukan karena jago bahasa inggris, tapi pake translate :v)
Ya iya, semua orang juga pengen gitu. Tapi kapasitas tiap orang kan beda. Masalah yang sama gak bisa diatasi dengan cara yang sama oleh semua orang.
Enggak tau kenapa sih ya, dari dulu emang gue tuh suka banget merhatiin hal-hal yang sebenernya ga perlu dipikirin dan gue perhatiin. Ya seru aja gitu, gue bisa lihat anehnya dunia ini anehnya kehidupan ini, dan ternyata manusia itu banyak ragamnya. Dan hal itu yang membuat dunia ini unik. Jadi ya, we have to focus in own life, right? Gausah ngikutin orang lain..
Balik lagi mengenai pernikahan, siapa pun yang kita nikahi, tentu saja, sedikit banyak akan berbeda kepribadiannya dengan kita. Walaupun kesempurnaan itu enggak ada, pasti setiap orang menginginkan pasangan yang terbaik mulai dari fisik hingga kepribadiannya.
Oya, gue nemu satu artikel yang membahas tentang teori menikah kali ya, gue taro linknya dibawah 👇
The school of life
Setuju sih sama yang dia bilang, hal yang pertama yang harus kita tau dalam memilih pasangan adalah kita harus mengerti diri kita sendiri. Kita harus bisa mengukur seberapa rendahnya tingkat kedewasaan kita dalam menangani masalah dan mengendalikan emosi.
Dengan tingkat pemahaman yang buruk tentang karakter kita, enggak heran kalo kita enggak tau siapa yang harus kita seriusin. (Cie)
Mungkin kita sebagai manusia (sebagian aja mungkin) akan cenderung marah ketika seseorang tidak setuju dengan pendapat kita.
Nah, disinilah, kita membutuhkan pasangan yang bisa memahami kita. Bisa meredam emosi kita, bukannya malah kita emosi dia juga emosi balik. (Emang susah sih buat diaplikasikannya)
Oleh karena itu, tugas utama dari setiap pasangan menurut gue, adalah untuk menangani secara spesifik dimana mereka berada disituasi terburuk sekalipun (dalam menghadapi pasangannya). Apalagi dalam suatu hubungan itu pasti akan ada, dimana kita berbeda pendapat. And it's not all about winning guys. Kalo masih mengandalkan ego, gue ga mau kalah dalam argumen ini. Itu adalah hal yang salah sih.
Selain itu juga kita harus memahami pasangan. Yaiyalah jangan hanya mau dimengerti tapi tidak mau mengerti.
Untuk bisa memahami tersebut, kita perlu untuk mengenalnya terlebih dahulu. Maka dari itu sih, harus ada yang namanya proses pengenalan.
Karena kita perlu mengetahui sikap mereka, pendiriannya, pandangan dia terhadap kehidupan/society, dan ratusan hal lainnya. Dan ya, pengetahuan ini tidak akan tersedia hanya melalui obrolan standar.
Apalagi nanti, ketika kita sudah berumah tangga, pasti akan ada konflik, akan dipenuhi konflik. Dan itu enggak bisa dipungkiri, enggak peduli apakah kamu orang yang berkecukupan dalam harta atau kurang, apakah kamu seorang yang sholeh--sholehah atau minim wawasan, apakah kamu orang yang berprestasi dalam banyak hal atau bukan. Enggak bisa enggak. Pasti akan terjadi.
Saling diam, saling membelakangi, saling buang muka. Ada yang hitungan jam, ada juga yang hitungan hari. Urusan yang super sepele bisa menjadi besar. Yang logis menjadi enggak logis.
Tips untuk mengatasinya, laki-laki harus banyak berkorban. Kamu, sebagai suami, harus lebih banyak diam. Diam yang elegan, bukan karena diam tidak mampu lemah tidak berdaya. Diam disini maksud gue tuh cukup pake kalimat yang padat jelas dan tegas. Bukannya malah ngorek--ngorek kesalahan--kesalahan lainnya terus seolah-olah nyudutin gitu..
Kalau perempuan digituin sih, kayaknya bukan malahan jadi menghormati deh.. malah ntarnya si cewek ini bakalan jadi berani pake suara lebih tinggi melebihi suara suami. Dan itu juga bakalan jadi boomerang buat si suaminya. Untuk keduanya juga.
Untuk kamu, seorang suami. Korbankan waktu, perasaan, dan pikiran untuk rumah tangga kamu (istri maksudnya). Harus selalu bilang “oke” ke istri, apapun yang dia mau. Jangan pernah bilang “enggak” (rada egois sih memang). Kalau kamu lagi enggak mau nurutin permintaan istri ya intinya jangan bilang “enggak”, pilihan yang tepat untuk menolak adalah di-am.
Mengambil keputusan adalah hak mutlak suami, (eumm walaupun not every decision I think) selama bukan kemaksiatan maka istri enggak punya pilihan selain ikut suami, itu dalam teori. tapi faktanya enggak begitu.
Istri tetaplah manusia, sebagus apapun wawasannya terhadap Islam, seluas apapun pemahamannya terhadap hak dan kewajiban suami--istri, dia tetaplah manusia. Dia “enggak akan peduli” dengan dalil-dalil dan ajaran dalam Islam.
Maka dari itu sih, suami harus banyak berkorban. Tapi tetep. Istri juga lama-kelamaan harus belajar juga.. ya janganlah sampe tiap ada masalah suami terus yang ngalah. Walaupun manusia ada yang kayak malaikat tapi yaa namanya juga hati manusia. Kadang ada lelahnya kan?
Mayoritas perempuan itu logikanya lebih lemah dari laki-laki, itu juga kayaknya semua orang udah pada tau. Kita para perempuan (karena gue juga perempuan 😂), enggak akan bisa dengan cepat membaca pola. Kalaupun udah bisa ngebaca pola, kita tetap akan mendahulukan perasaan ketimbang logika. Contohnya, kita sudah tahu harus melakukan apa, tapi kita tidak langsung melakukannya karena mendahulukan perasaan itu tadi.
Sesuatu yang belum terbiasa itu butuh dilatih. Bisa karena biasa. Kamu (seorang suami) harus bantu dia (seorang istri) melatih hal-hal tersebut. Misal, kalau lagi ada sesuatu yang error terjadi dan disebabkan oleh suami, istri pasti marah ke suami.
Suami mikirnya sederhana, “Udah terjadi, ya sabar, mau marah-marah juga enggak akan menyelesaikan masalah, cukup dijadikan pelajaran supaya enggak terulang lagi.”
Istri enggak begitu, istri harus ada yang bisa dilampiaskan. Ini juga gue aneh (mungkin karena sifat alami perempuan kayak begitu kali ya).
Ketika istri melampiaskan itu, suami diam saja. Sampaikan satu-dua kalimat yang tegas, setelah itu diam. Itu adalah diam yang tegas, bukan diam yang lembek seperti membiarkan sesuatu.
Setelah itu istri akan mikir.
And repeat again.
Hal-hal semacam itu akan berulang terus, suami cukup lakukan hal yang serupa. Sampai pada titik dimana cara istri melampiaskan hal-hal itu semakin berkurang, semakin berkurang, semakin berkurang. Di sini istri udah bisa bersikap dengan lebih bijak.
Biasanya butuh waktu lama untuk bisa mendidik istri menjadi bijak untuk hal ini saja. Masih banyak hal lain yang suami harus juga lakukan untuk mendidik istri menjadi lebih baik. Yaa sing sabarlah ngedidiknya.
...
Temen gue (yang sudah berkeluarga) ada yang bilang : “Perempuan itu seneng banget diajak ke pasar ya.”
Dan emang iya, perempuan itu bahagia kalau diajak belanja, diajak shopping, pilih sendiri, tawar sendiri, enggak diganggu sama anak-anaknya. Walaupun kadang cuma liat-liat (enggak beli:v) perempuan sudah bahagia (gue pilih kata bahagia karena kayaknya kata ini satu level lebih tinggi derajatnya dari kata senang). Biasanya sih kalau cuma liat-liat (doang) sampai di rumah merengek minta dibeliin. (Gue banget!)
Yaa sesekali-lah kamu sebagai suami yang ngajak istri ke pasar, diantar, dibonceng, ditemenin dari satu lapak ke lapak yang lain, dibawain belanjaannya. Kalau pas sudah ada anak ya anaknya juga dibawa sambil digendong sama ayahnya, biar istri bisa fokus belanja. Ya intinya istri bisa leluasa ngapa-ngapain tanpa beban, itu salah satu bentuk kebahagiaan buat dia lho. Buat kami para perempuan, belanja itu hiburan yang menyenangkan. (Tapi inget juga isi dompet yaa)
Dengan melakukan hal itu tadi, istri akan merasa diperhatikan. Kuncinya, ketika melakukan kebahagiaan ini suami juga harus total, jangan sambil main HP, fokus ke hal lain, dll.
So, buat para suami nantinya, jangan pernah pasang muka cemberut atau gelagat tidak senang ketika ada sinyal-sinyal mau berangkat ke pasar atau mau belanja. Tidak harus setiap hari, yang penting rutin dan selalu dalam keadaan ceria.
...
Kita dan pasangan berasal dari latar belakang yang bisa dibilang sangat berbeda. Ada banyak hal-hal yang tidak selaras pastinya. Pertengkaran seringkali muncul karena masalah perbedaan ini.
Proses menyamakan diri ini menjadi salah satu ujian juga yang harus diselesaikan. Salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk menyamakan diri ini bisa dengan cara mengikuti sebuah seminar bertemakan family, parenting, dan sejenisnya.
Jangan deh ngirimin link melalui WA atau FB, percayalah ini cara yang enggak bagus meski maksud kamu menasihati. Karena menurut pengalaman gue, artikel itu "hanya akan dibaca aja." Saran nih saran, didik dia sambil kamu mencontohkannya juga.. ini akan berbeda dengan kita baca artikel panjang-panjang dan otak nih, "ohh iya yaa" udah gitu lupa lagi, lahh.
...
"Atu dia mah masak mah lain pagawean lalaki 😄"
Gue gemez sih, sama salah satu temen yang bilang begini.. mau unjuk gigi jadinya :v
Kalau ada yg bilang laki-laki gaboleh ngerjain pekerjaan rumah atau perempuan ga boleh bekerja. Itu salah besar.
Selama bisa melengkapi kenapa harus dikodratkan seperti itu? Bukannya tujuan dari keluarga adalah saling melengkapi?
Melengkapi bukan berarti malah menjadi bertukar kodratnya antara suami dan istri.
Suami bertanggung jawab atas keluarganya, kewajibannya mencari nafkah dan mengayomi keluarganya.
Sedangkan istri bertanggung jawab di dalam rumah, mengurusi keluarga dan sebagainya. Begitulah seharusnya.
Akan tetapi kodrat suami dan istri juga tidak menutup kemungkinan untuk suami melakukan pekerjaan rumah atau istri juga membantu perekonomian keluarga..
Misalnya suami lagi ada waktu kosong, mau bebersih rumah itu gpp. Justru menambah keharmonisan keluarga.
Contoh lain sang istri membuka usaha, asalkan sesuai dengan perizinan dan peraturan suami itu tidak apa apa. Justru bisa menambah perekonomian keluarga.
Jadi, di sini intinya kita tidak boleh melarang sesuatu jika suami atau istri mau melakukan tugas yang bukan sesuai kodratnya, asalkan sesuai dengan aturan yang berlaku. Selama tidak menyimpang itu tidak masalah.. Itulah salah satu makna "Saling Melengkapi" (ngutip dari doi)
Setuju banget sama pendapat dia.
Yang perlu digaris-bawahi disini adalah urusan rumah tangga adalah tugas utama istri. Tapi bukan berarti ini menjadi alasan bagi suami untuk tidak bisa masak, mengurus anak, ganti baju anak, sapu-pel dan semacamnya.
Tetap, suami harus punya skill urusan rumah.
Jadi kalau istri lagi enggak capable melakukan tugas utamanya untuk mengerjakan pekerjaan rumah, suami bisa gantiin, begitu juga sebaliknya. Kita bisa jadi team partner.
Yang menjadi tidak wajar adalah ketika derajatnya disamakan. Suami harus mau dan harus siap kapan saja me-ngurus-i pekerjaan rumah. Ya, ini menjadi tidak wajar. Laki-laki tidak bisa ditempatkan di posisi ini. (Ngutip dari temen)
Betul banget. Yang menjadi masalah menurut gue adalah ketika istri ternyata tidak siap menjadi seorang istri. Dikit-dikit “Tolong dong masakin, tolong mandiin, tolong angkatin, tolong jemurin, tolong.. tolong.. tolong.” Sedangkan ia tidak memperhatikan apa yang sedang dilakukan suami saat itu. Ia tidak peduli suami sedang menerima telepon, suami sedang mencatat sesuatu, suami sedang di depan laptop, atau ngutik-ngutik HP.
Yang ada dalam pikirannya adalah tidak mau tau, pokoknya segera tolong! Kalau perlu pakai jurus bentakan dengan kekuatan 100 desibel (dB) yang cukup untuk menggetarkan lutut suami. Ini parah sih.
Suami itu adalah kehormatan keluarga. Kalau suami disuruh ini-itu, apalagi dibentak, secara tidak langsung kehormatan keluarga akan pudar, dan mental suami menjadi hilang.
Hilang juga pikiran dan jiwanya sebagai seorang imam. He doesn’t care about his family. Semakin sering diperlakukan dengan “tidak layak”, semakin lemah juga kemampuannya dalam memimpin.
Seorang istri mau minta tolong ke suami, harusnya mikir-mikir dulu, lihat-lihat sikon, baca raut wajah suami apakah suami sedang serius pada sesuatu, atau sedang santai. Yang kita juga harus berusaha dengan hati-hati menggunakan kalimat yang diatur/ditata saat meminta tolong padanya.
Gunakan kata-kata yang seolah bukan kalimat perintah, bukan kalimat seorang makmum yang memerintah imam. Selalu diawali dengan “bisa minta tolong bla bla bla..?”
Pakailah kalimat tanya. Bijak. Beri mereka pilihan untuk menerima dan menolak permintaan tolong kita. Dan apalagi, jika disertai intonasi yang lemah-lembut. Sebagai seorang laki-laki normal, menolak permintaan dengan kalimat yang semacam itu adalah pantangan.
Tentu saja kalimat ini akan berbeda jika to the point “gantiin popok si dede dong!”
...
Masih banyak lagi yang mau gue taro ditulisan ini, tapi kayaknya akan menjadi panjang banget kalau semua disekaligusin. Kali ini, segini dulu.
Bahasan tentang pernikahan, akan berlanjut XD 👉👉 tunggu postingan selanjutnyaa 💙
Komentar
Posting Komentar