Kali ini gue cuma mau ngomel-ngomel.
Dari beberapa minggu yang lalu, beberapa teman cowok (dulu) gue ngontek, awalnya basa-basi, dan makin kesini makin gue perhatiin itu semacam kayak "kode".
Dan itu membuat gue tidak nyaman, membuat gue risih. I don't care apakah itu hanyalah bercanda atau apapun. Let' me ask you this, gue punya cowok. Okay, I know having a boyfriend is just having a boyfriend. It doesn't really matter because it's not like having a real husband. But still, bayangin apa coba yang cowok gue rasain kalo liat ceweknya digombalin cowok-cowok enggak jelas? Gue aja merasa disgusted, apalagi doi?
Oke, gue mengakui, mungkin dulu gue termasuk cewek yang memang fine fine aja dapet perhatian dari lawan jenis, oke oke aja diginiin, enggak suka pun gue enggak akan setegas sekarang ini. But not for me now. I was changed guys..
Sekarang gue udah punya seseorang yang harus gue hargai perasaannya. (that's another reason why I kind of want to expose him. Because I would feel more safe at least)
...
Gue jadi inget perkataan temen gue dulu.
"Apa sih lo, apa apa kudu bilang dulu ke dia, your boyfriend only a boyfriend neng. Not your husband".
Dan lagi..
"Nyantai aja sih neng, cuma buat seneng-seneng aja, lagian kan ga mungkin juga kita cuma fokus sama satu orang. Belum tentu dia juga gitu ke lo. Kebukti kan, dia aja jalan sama orang lain ga bilang dulu ke lo. Bilang setelah melakukan hal itu. Dan kenapa lo ga mempermasalahkan hal itu?".
...
I know, it's hard for me. Menahan perasaan cemburu dan mencoba untuk nyembunyiinnya. Tapi gue tetep menghargai dia. Dia dan seseorang (itu) hanyalah dua orang teman. Dan memang bener, my boyfriend only a boyfriend not my husband. Gue belum ada hak apapun untuk ngelarang-larang dia berteman dengan orang-orang tertentu yang gue ga suka. Itu hidup dia kok. We have own life masing-masing walaupun kita adalah "pasangan".
Dan mengenai gue sendiri, yang tiap ada apa-apa, dikit-dikit selalu bilang ke doi.. selalu minta pendapat dia.. selalu bilang dulu ke dia cuma untuk dia "mengiyakan" atau setuju sama langkah yang mau gue ambil. I know, menurut sebagian orang itu berlebihan, karena itu terkesan kayak seorang cewek yang meminta ijin ke pacarnya (hanya pacarnya bukan suaminya).
Tapi menurut gue hal itu harus gue lakuin ketika gue bingung, karena setelah gue bilang ke dia pasti akan ada solusi. Dan hal itu pun bakal gue lakukan kalaupun sama orang lain (yang sama kayak dia bisa kasih solusi dan tau caranya biar gue berhenti buat bingung). Apakah itu masih dibilang tidak wajar?
Tapi nyatanya, ga ada siapapun yang sama kayak dia, ga ada yang bisa gue andalkan selain dia.
...
"ga mungkin juga kita cuma fokus sama satu orang. Belum tentu dia juga gitu ke lo"
Kalimat ini membuat gue bungkam seribu kata. (Apalagi dia bawa-bawa bukti segala macem)
"Belum tentu dia juga gitu ke lo".
Itu yang dia tekankan.
Belum tentu dia juga gitu ke lo sama artinya dengan lo enggak percaya sama dia.
Terus kenapa gue ga mempermasalahkan hal itu, karena ya buat apa? Dengan gue marah-marah karena hal itu secara tidak langsung gue ngelarang dia berteman dengan orang tertentu yang buat gue itu bukan hak gue sama sekali. Mendikte orang lain. Hmmm.
Gue percaya dia. Apapun yang dia lakukan.
Gue tau itu terlalu polos untuk berpikiran seperti itu, tapi seenggaknya gue udah kasih kepercayaan sama dia.
Urusan dia dengan kepercayaan gue, itu akan menjadi salah satu tolak ukur kenapa gue harus sama dia.
Karena itulah menurut gue, harus ada private life sendiri-sendiri, tidak hanya antara-kita-aja. Kita punya dunia masing-masing, yang in real life dia itu ga ada disamping gue tiap hari.
Dan hal apa yang menyatukan kita?
Respect.
Dan kepercayaan.
Dua hal itu yang menjadikan kita seolah-olah dekat terus satu sama lain.
...
Gue jadi inget perkataan temen gue dulu.
"Apa sih lo, apa apa kudu bilang dulu ke dia, your boyfriend only a boyfriend neng. Not your husband".
Dan lagi..
"Nyantai aja sih neng, cuma buat seneng-seneng aja, lagian kan ga mungkin juga kita cuma fokus sama satu orang. Belum tentu dia juga gitu ke lo. Kebukti kan, dia aja jalan sama orang lain ga bilang dulu ke lo. Bilang setelah melakukan hal itu. Dan kenapa lo ga mempermasalahkan hal itu?".
...
I know, it's hard for me. Menahan perasaan cemburu dan mencoba untuk nyembunyiinnya. Tapi gue tetep menghargai dia. Dia dan seseorang (itu) hanyalah dua orang teman. Dan memang bener, my boyfriend only a boyfriend not my husband. Gue belum ada hak apapun untuk ngelarang-larang dia berteman dengan orang-orang tertentu yang gue ga suka. Itu hidup dia kok. We have own life masing-masing walaupun kita adalah "pasangan".
Dan mengenai gue sendiri, yang tiap ada apa-apa, dikit-dikit selalu bilang ke doi.. selalu minta pendapat dia.. selalu bilang dulu ke dia cuma untuk dia "mengiyakan" atau setuju sama langkah yang mau gue ambil. I know, menurut sebagian orang itu berlebihan, karena itu terkesan kayak seorang cewek yang meminta ijin ke pacarnya (hanya pacarnya bukan suaminya).
Tapi menurut gue hal itu harus gue lakuin ketika gue bingung, karena setelah gue bilang ke dia pasti akan ada solusi. Dan hal itu pun bakal gue lakukan kalaupun sama orang lain (yang sama kayak dia bisa kasih solusi dan tau caranya biar gue berhenti buat bingung). Apakah itu masih dibilang tidak wajar?
Tapi nyatanya, ga ada siapapun yang sama kayak dia, ga ada yang bisa gue andalkan selain dia.
...
"ga mungkin juga kita cuma fokus sama satu orang. Belum tentu dia juga gitu ke lo"
Kalimat ini membuat gue bungkam seribu kata. (Apalagi dia bawa-bawa bukti segala macem)
"Belum tentu dia juga gitu ke lo".
Itu yang dia tekankan.
Belum tentu dia juga gitu ke lo sama artinya dengan lo enggak percaya sama dia.
Terus kenapa gue ga mempermasalahkan hal itu, karena ya buat apa? Dengan gue marah-marah karena hal itu secara tidak langsung gue ngelarang dia berteman dengan orang tertentu yang buat gue itu bukan hak gue sama sekali. Mendikte orang lain. Hmmm.
Gue percaya dia. Apapun yang dia lakukan.
Gue tau itu terlalu polos untuk berpikiran seperti itu, tapi seenggaknya gue udah kasih kepercayaan sama dia.
Urusan dia dengan kepercayaan gue, itu akan menjadi salah satu tolak ukur kenapa gue harus sama dia.
Karena itulah menurut gue, harus ada private life sendiri-sendiri, tidak hanya antara-kita-aja. Kita punya dunia masing-masing, yang in real life dia itu ga ada disamping gue tiap hari.
Dan hal apa yang menyatukan kita?
Respect.
Dan kepercayaan.
Dua hal itu yang menjadikan kita seolah-olah dekat terus satu sama lain.
...
Komentar
Posting Komentar