Langsung ke konten utama

Awal 2020


Awal 2020.

Pada postingan kali ini aku gamau ngomongin resolusi ku untuk tahun ini lebih lebar. Aku hanya ingin cerita sama kalian kalo pas pulang kemarin dari Ciputat ke Pandeglang, lagi di Carrefour ketemu Pak Latif Bahasa Indonesia, terus pas di pasar Pandeglang ketemu Bu Ektin Matematika, besoknya habis pulang dari Serang ketemu Romi SMP. Semuanya pada terheran-heran Eneng ga kuliah. Pas nyampe rumah, jadi makin mantep buat cepet-cepet bantu di Cikole. Dan bilang sekali lagi ke diri sendiri "kuliah memang penting, tapi bukan segalanya."

Aku mau buat penyesalan berhenti perjuangin IPB jadi kebanggaan tersendiri karena milih jalan yang berbeda. Walaupun dulu aku udah datengin kampusnya buat ikutan acara GCTI lebih awal dibanding kakak-kakak yang lain (saat itu aku masih kelas 11, satu tahun lebih awal buat ikut tryout SBMPTN dan peserta lain semuanya rata-rata kelas 12 dan itupun SMA bukan SMK seperti aku. Otomatis mereka lebih punya persiapan satu langkah dari siswa SMK dong, dan ada beberapa peserta yang GAP years udah deh mati). Udah gitu inget banget  gimana tergesa-gesanya ambil Panlok SBMPTN di Bogor berharap masih kebagian di IPB-nya langsung, dan ternyata kebagian di SMAN 2 Bogor doang. Dan setelah itu aku shalat di Mesjid Raya Bogor dan berdoa semoga aku diterima dan dapatkan yang terbaik buat ku menurut tuhan.

Hasilnya aku ga lolos. Ya mungkin aku yang terlalu optimis orang seperti aku bisa dapatkan IPB dengan bantuan beasiswa.

Aku juga ga ngerti gimana cara berfikir aku dulu. Rasanya aku masih ga habis fikir kenapa aku pengen banget kuliah di Bogor dan pengen banget tinggal di Bogor. Se-ter-obsesinya aku pada saat itu.

Aku gamau ga kuliah. Dan akhirnya aku coba tes di Universitas Ibnu Khaldun Bogor (btw ini almamater KH. Ma'ruf Amin) UIKA ini lebih menekankan Agama which is Islam. Dan aku lolos di Pendidikan Bahasa Inggris, dan sebagian uang pendaftaran udah masuk. Hal yang aku inget dari tes wawancara itu adalah pertanyaan "Kenapa kamu mau masuk kesini?" Dan aku pada saat itu hanya jawab "Ingin dapat ilmu dan juga pendidikan Agama Islam yang lebih dari UIKA ini, Pak." "Kenapa enggak pilih Pendidikan Agama Islam kalau gitu? Kalau mau lebih dapatkan pengajaran tentang Islam dari kami?" Dan aku yang gatau kenapa cuma nyengir. Doang.

Sampe aku mikir, sampe aku bertanya ke diri sendiri. Sebenernya apa yang aku mau kenapa aku pengen banget punya kehidupan di Bogor, dan beberapa pertanyaan yang buat aku bingung dan realized bahwa pilihan aku bukan yang aku mau.

Sebenernya yang membuat aku sedih dan agak stres pada waktu itu bukan karena aku jadi gabisa kuliah di IPB dan malah cabut dari UIKA, pada saat itu aku krisis identitas. Aku mempertanyakan identitas ku sendiri. Tentang banyak hal. Dan itu yang buat aku nangis hampir tiap hari dan bersedih terus. Kerja jadi enggak fokus...

Dan yang aku sesalkan hingga saat ini, aku pulang tanpa pamit. Aku ijin kerja untuk pulang kampung dengan alasan mau rayain ulang tahun ku dan jalan-jalan ke pantai. Saking aku ga punya alasan apa-apa untuk kabur. Dan aku masih merasa bersalah sampe sekarang dan malu dan gatau harus gimana.

Untuk beberapa saat aku bisa bangkit dan mulai bekerja di Serang. SENDIRI. Aku selalu dibantu pacarku. Pada saat aku kesusahan di Bogor, dia yang coba nenangin. Pada saat aku kesulitan hidup di Serang sendirian pun, dengan gaji magang yang pas-pasan aku selalu minta tolong ke dia. Terimakasih!

Lama-kelamaan aku melakukan kesalahan, dan itu ngebuat mental ku runtuh lagi. Ada keadaan dimana itu hujan besar. Aku sendiri di kost, aku kunci pintu. Nyalain keran sampe airnya tumpah-tumpah dengan keadaan basah kuyup di depan mata ku, ada banyak jenis obat-obatan persediaan aku. Aku udah buka beberapa dan tinggal telan.

Aku mencoba berfikir sedetik saja. Sedetik saja. Alasan aku hidup. Dan aku teringat Mama, Adik-adik, Bapak. Aku gatau lagi harus gimana saat itu.

Masih hujan besar. Aku minta maaf banget sempet punya pemikiran seperti itu. Dan aku bersyukur karena memiliki beberapa orang yang benar-benar peduli. Dan akhirnya aku dibantuin ngepel lantai karena kamar ku pada saat itu banjir 😂 Aku selalu ingat moment itu, bagaimana dia nenangin aku. Aku sangat berterimakasih 🙂

Aduh maaf malah jadi cerita. Aku terbawa masa itu teman-teman. Maaf sekaliii

Yang lalu biar berlalu, pokoknya, bismillah buat 2020! Dan semoga liburan tahun depan tabungannya sudah cukup dipake ke Bogor, Bandung, dan kota favorit lainnya. Aamiin...

Awal tahun 2020 ini kemarin hujan hampir 12 jam ga berhenti-henti. Otomatis Jakarta banjir. Dan ada temanku yang menyatakan statement yang kurang aku setuju. Aku sudah coba bicara sih, yaa gitu deh.

Aku masih enggak ngerti kenapa deh mentalitas masyarakat tuh suka banget kayaknya mengaitkan bencana alam sama azab. Ya I know, sebagai makhluk yang beragama  naturally aku juga kalau dapat unfortunate event terus langsung instrospeksi diri salah apa aku sama tuhan, dosa apa yang aku lakukan. Cuma, kalau sampe kita kebanyakan mikirin azab aja apalagi nyalahin orang lain tanpa mikirin solusi apa yang bisa kita lakukan untuk mengantisipasi bencana itu lebih baik lagi itu sama sekali enggak membantu. I mean, memanfaatkan agama untuk dipake menyudutkan beberapa orang atas bencana banjir, tsunami, dll. Itu menurut aku jahat banget sih. Bener bener enggak sensitif dan enggak empati. Aku yakin tuhan nurunin agama ke dunia untuk manusia bukan untuk itu.

Nah, dengan adanya banjir, manusia bisa apa?
1. Bisa gak nyalahin Jokowi
2. Bisa gak nyalahin Anies
3. Bisa belajar kalo air mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah.
4. Bisa belajar kalo jalur hijau itu penting terutama di daerah aliran sungai.
5. Bisa cari tau mana aja daerah yang dulunya jalur hijau sekarang jadi mall, jalan toll, perkantoran, dan fasilitas lain.
6. Bisa belajar sejarah Jakarta dimana banyak daerah dengan nama depan Rawa, Kebon, Ci (berarti air/sungai) dimana itu tempat air.
7. Bisa belajar tentang aliran sungai dari Hulu ke Hilir. Dimana Hulu dimana Hilir. Apa yg terjadi di sekitar Hulu hingga air mengalir semua ke Hilir tanpa basa basi.
8. Bisa tidak buang sampah di sungai dan got.
9. Bisa saling mengingatkan untuk jaga lingkungan.
10. Bisa gak???

Gak perlu jadi ahli tata kota buat tahu hal simple tentang air. Orang tua dulu juga udah ngingetin gimana bersahabat dengan air. Sekarang masih ada yang bisa dicontoh. Search : Bang Idin Jawara Kali Pesanggrahan. Atau malas aku taro linknya.
https://www.bbc.com/indonesia/laporan_khusus/2013/02/130205_tokohjanuari2013_bangidin_chaerudin

Saat ini seketika aku jadi ingat dulu debat Bahasa Inggris dapat motion tentang private garbage management. Dan aku langsung keinget video ini. https://youtu.be/zq2Y4Fj4qAs Kitabisa mencontoh cara pengelolaan sampah rumah tangga di Korea. Menurutku cara ini akan efisien dan dapat memudahkan perusahaan swasta ataupun pemerintah pengelola sampah. Akan lebih bagus lagi jika cara ini bisa kita terapkan di Indonesia. Dan satu lagi teman-teman, setidaknya kurangi penggunaan plastik, aku ga perlu kan jelasin lebih lebar tentang plastik 😂
Seenggaknya kalau belanja di minimarket atau pasar tradisional bawa kantong belanjaan yang bisa dipakai berulang. Kalau belanja ke warung sekiranya bisa kita tenteng tanpa plastik ya why gitu?


Dan aku tuh masih tetep greget sama orang yang masih aja ributin ngucapin natal atau ga ngucapin. Seolah-olah itu kayak agenda tahunan yang ga pernah selesai-selesai. Yaudah sih, ngucapin atau ga ngucapin kita mah tetep aja dapat libur dan diskonannya. Kan berkah bagi non muslim berkah juga buat kita..

Dan untuk perayaan tahun baru. Please, agama ga ngelarang kok buat niup terompet dan nyalain kembang api 😂 kalo tiup terompet dilarang terus malaikat Izrail nanti tiup pake apa dongs jadiinyaa..? Aaa

Sukaa banget ya pakai hadist jangan menyamai suatu kaumm

Simak sampai selesai biar otak jadi ga setengah punten!

Penjelasan hadis tentang menyerupai kaum Yahudi dan Nasrani oleh Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pangan Lokal

Halo teman-teman, setelah beberapa lama akhirnya saya memberanikan diri untuk memulai kembali menulis blog disini. Selama 6 bulan terakhir saya bekerja di Griya Arum Ayu Local Food yang mengolah produk makanan yang berasal dari bahan-bahan lokal. Selain itu juga disana saya ikut serta dalam sosialisasi pangan lokal melalui beberapa pelatihan yang diadakan disana. Berikut beberapa dokumentasi yang ingin saya bagikan Pelatihan Pengolahan Pangan Lokal Wanita Tani Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat Bersama PUSPITEK dan ARUM AYU. 23-25 September 2019. Dalam Rangka Peningkatan Kompetensi Guru Keterampilan Tataboga Program Revitalisasi Vokasi Bersama SK AS-SALAM 02 dan ARUM AYU. 7-11 Oktober 2019. Bina Kreativitas Perempuan Melalui Pelatihan Tataboga Pangan Lokal Dalam Rangka Meningkatkan Peran Serta dan Kesetaraan Gender Bersama DPMP3AKB KOTA TANGSEL dan ARUM AYU. 17-28 Februari 2020. Ketiganya adalah pengalaman yang sangat berkesan bagi saya, bisa be...

Ada Apa Sih Dengan Gluten di Tepung Terigu??

Apa itu gluten? Ketika saya masih di sekolah, saya belajar sedikit mengenai gluten. Pada saat itu saya hanya mengetahui bahwa gluten sebagai kandungan yang terdapat dalam tepung terigu. Namun belum mengetahui lebih jelasnya kenapa sebaiknya kita mengurangi konsumsi gluten ini. Setelah bergabung dengan Arum Ayu, saya banyak belajar lagi tentang gluten dan pangan lokal. Nah, gluten merupakan senyawa protein yang terdiri dari glutenin dan gliadin, adalah sejenis protein yang terdapat pada gandum dan tepung terigu. Gluten mengandung komponen protein yang disebut peptida. Gandum mengandung peptida. Begitu juga dengan tepung terigu. Bingung kan? Hehehe Oke lebih singkatnya, dalam proses pengolahan makanan, fungsi gluten adalah untuk menghasilkan tekstur yang kenyal, elastis, dan mengembang pada makanan (seperti roti dan kue). Efek elastis, kenyal, dan mengembang tersebut dihasilkan ketika tepung dicampurkan dengan air. Protein gluten akan membentuk jaringan-jaringan yang lengket...

#1

Rasanya sudah cukup aku membicarakan hal yang usang itu. Pengalaman yang memberikan pelajaran, rasa sakit, hal konyol sekaligus malah jadi bahan ketawaan ya kan. Haha. Yang ku fokuskan sekarang adalah keadaan aku, kita, saat ini. Aku yang dimasa lalu pernah dikecewakan berkali-kali, bahkan mungkin sekarang di sudut hati yang paling terpencil masih ada sisa-sisa luka itu. Ya, itu wajar. Mengapa tidak begitu kan, aku berkali-kali terluka hebat dikesalahan yang sama. Sampai akhirnya aku memilih untuk berhenti. Udahlahya. Yang lalu biarlah berlalu. Aku lebih suka menatap masa depan bersama kamu. Cieee.  Terakhir kali, ditanya "kamu baik-baik aja kan?" Jujur aku malah ketawa denger pertanyaan itu. Ya mungkin dulu dulu mah kalo ada yang nanya gitu auto nangesss. Jadi mikir, aku dimasa-masa itu mengusahakan untuk baik-baik aja, tapi sekarang jauh lebih baik dari harapan itu. Banyak hal yang ku syukuri, dengan pengalaman yang nggak enak itu aku menemukan banyak hal baru. Salah satuny...