Langsung ke konten utama

Anak Laki-laki Itu Sampe Kapanpun Milik Ibunya? Apa Bener?

 There's someone ask me like this:

"Neng mau tanya dong, yg bener itu yg mana...

1. Seorang anak laki² itu mau sampai kapanpun milik ibunya..

2. Seorang anak laki laki menjadi tanggung jawab ibunya,,, atau

3. seorang anak laki laki bertanggung jawab atas ibunya.."

And that's make me thinking alot. I ask to my sist and u know what? Dia lebih dewasa dari yang ku sangkakan ternyata 😂

"Yang pertama agak kurang pas frasa kalimatnya, kalimatnya bikin kesan seolah seorang ibu berhak mendiktator anak laki-lakinya seumur hidup. Ya memang, surganya anak laki-laki itu di bawah telapak kaki ibunya sampai ahir hayat. Tapi setelah si anak menikah, dia juga harus bertanggung jawab memberi surga ke istri dan anak-anaknya."

"Kedua, yang namanya orang tua ya jelas bertanggung jawab buat anak-anaknya. Kayak ngingetin dia ketika berbuat salah, ini sih wajib ya. Atau ngebantu ketika susah, orang tua mana sih yang rela anaknya kesusahan, tapi kan laki-laki tuh biasanya punya jiwa leadership yang bikin dia gengsi nerima bantuan orang lain. Nah, apalagi kalo udah rumah tangga, masa iya apa-apa minta bantuan orang tua, malu lah ya. Dan juga, kalo dalam masalah permaksiatan, ga ada seorangpun yang bisa nanggung dosa orang lain, dosa anak ya dosa anak, dosa ibu ya dosa ibu, ga bisa dibagi-bagi. Jadi ya intinya, ga semua hal dari sorang anak laki-laki adalah tanggung jawab ibunya."

"Ketiga, jelas dong! Dia bertanggung jawab sama ibunya 'kalo ayahnya udah ga ada'. Kalo ayahnya masih ada ya dia cuma harus berbakti, bukan bertanggung jawab sepenuhnya. Dan kalo dia udah punya keluarga sendiri, utamain anak istrinya, kalo segala kebutuhan anak istrinya sudah tercukupi, barulah dia memenuhi kebutuhan ibunya. Ga harus maksain bertanggung jawab ke ibunya sampe lupa sama kewajiban sendiri, bahwa dia juga punya anak istri."

Dan itu cukup jelas. Jadi ya intinya, prioritaskan yang lebih utama. Yaitu kewajiban diri. Karena, salah satu kunci sukses dalam hidup itu adalah skala prioritas.

Dan ada satu lagi sih yang aku merasa terganggu karenanya. Jadi aku satu kontak WhatsApp dengan salah satu seorang ibu. Dan beliau sudah memiliki seorang menantu. Idk masalah apa yang dihadapi keluarganya, tapi one thing thats make me rethinking again. About this hadist:

"Setiap anak laki-laki adalah milik ibunya dan selamanya ia milik ibunya. Kepada ibunya, ia mendapat kemuliaan, kepada istrinya, ia memberi kemuliaan. 'Siapakah yang berhak terhadap seorang laki-laki?' Rasulallah menjawab 'ibunya'." — HR. Muslim

Seorang istri adalah wanita yang menemani kehidupannya, tapi ibunya yang memberi kehidupan. — lanjut beliau.

Hehe maap kalo kesannya aku over reacting pada banyak hal. Tapi aku cuma mau nyampein apa yang selama ini aku heranin aja sih. Salah satunya ini. Kita tuh manusia kenapa ya selalu ngerasa mempunyai hak kepemilikan terhadap hal yang sudah jelas-jelas sebenarnya itu cuma titipan. Kayak misalkan anak, pasangan (suami/istri), harta benda, dan semuanya yang kita miliki di dunia ini. Pada akhirnya itu semua kan bakalan nggak ada artinya.

Semua yang kita miliki sekarang, di dunia, itu hanyalah sebuah titipan sekaligus ujian buat kita.

Ya akhirnya nanti kita akan mempertanggung jawabkan diri kita sendiri kan, dan titipan itu. Dan kalau beruntung kita bakal ketemu lagi di surga sama orang-orang yang kita sayangi dan kasihi selama di dunia.

Kebersamaan di dunia itu emang semu.

Balik lagi, karena adanya perasaan kepemilikan itu, kita seringkali menuntut seseorang agar menjadi apa yang kita inginkan atau kita harapkan.

Dan karena adanya ekspektasi itu juga kita seringkali akan lebih sakit kalo orang yang kita sayangi dan cintai tuh melakukan hal-hal diluar yang kita harapkan.

Kayak misalkan anak atau pasangan, kalo menurutku sih ya, bagian mana sih yang itu adalah milik kita? Badan ya badan dia kan. Pikiran, pikiran dia.

Kita nggak bisa memaksakan semua kehendak yang kita mau pada pribadi lain (diluar diri kita sendiri) dan bahkan, kalo mau dijabarkan lagi, diri kita pun sebenernya bukan milik kita. Nyawa dan nafas yang kita miliki sekarang adalah titipan dari Tuhan yang nantinya harus kita pertanggung jawabkan.

Coba liat lagi deh surat at-taghabun ayat 15. Sesungguhnya harta benda dan anak-anak mu itu adalah fitnah (ujian).

Dan coba kita dalami lagi hal ini...

Dari Muaz bin Jabal, Nabi Muhammad saw berkata, “Pada hari kiamat, kaki seorang hamba itu tidak akan bergerak sampai ia ditanya tentang 4 perkara, mengenai:

✅ Umurnya, bagaimana dia habiskan.

✅ Masa mudanya, bagaimana dia lalui.

✅ Hartanya, bagaimana dia usahakan serta belanjakan.

✅ Ilmunya, bagaimana dia amalkan.”

— kita bahas lebih rinci dipostingan selanjutnya mungkin ya.

 Dari ilmu yang aku dapatkan ini, ku jadi mikir, setiap oksigen yang keluar masuk tubuh kita aja, nanti, akan dipertanyakan. Setiap detik yang kita habiskan, akan diminta pertanggungjawabannya.

Jadi kupikir, nyawa diri sendiri aja adalah titipan, bagaimana dengan hal yang lainnya? Yang bahkan itu diluar kontrol kita.

Jadi cara berfikir yang benar tuh gimana? Lihat surat al-hadid ayat 20. Bagaimana penuntut ilmu memandang dunia.

Dan beberapa quotes yang ku dapatkan dari kajian yang menurutku ini bagus banget lho untuk kembali menyadarkan kita:

"Dunia itu khamrnya setan (memabukkan)" — lihat surat al-mukminun ayat 99.

"Allah itu merendahkan dunia (kehidupan) maka kita jangan membanggakan apa yang Allah rendahkan." — dunia itu senilai salah satu sayap nyamuk.

"Kami menciptakan negeri akhirat (surga) bukan untuk orang yang meninggikan diri (sombong) dan membuat kerusakan di bumi" — al-qasas ayat 83 — tidak ada tempat di surga bagi orang yang sombong.

Sebenernya bahas hal ini sangat complicated, merambat ke hal yang lainnya juga. Salah satunya bagaimana kita bersikap terhadap pasangan. Ga akan habis bahasan.

Jadi inget apa kata ustadz Nuzul "berusaha menjadi istri yang shalihah itu bukan karena suami kita baik atau buruk, tapi karena kita berusaha menjadi hamba Allah."

Dan dari sisi ini juga sering terjadi kekeliruan, seringkali kita temuin beberapa wanita bertahan dalam rumah tangga karena alasan "ini semua demi anak" dan pada akhirnya apa yang terjadi? Tidak akan kuat, banyak sakit hatinya, tidak akan ikhlas, karena yang kita lakukan bukan karena Allah. Bukan karena kita berusaha menjadi hamba Allah yang baik. Did u get it my point?

Dan bagaimana caranya mengontrol suami/istri kita? Sedangkan kita nggak ada kemampuan untuk itu? — katanya, banyak meminta pertolongan kepada Allah. Karena, hati manusia itu diantara dua jemari Allah. Allah bolak-balikkan sesuai kehendaknya. Jadi gimana caranya memupuk rasa kepercayaan, keikhlasan dan kesetiaan? — Dengan berdoa 😁

Dan bagaimana caranya menyikapi hal yang diluar kontrol kita? Banyak minta pertolongan sama Allah. Fokus pada kewajiban, fokus pada mindset 'bagaimana caranya saya menunaikan kewajiban terhadap suami/istri saya?' 'bagaimana caranya saya menunaikan hak-hak mertua/menantu saya?' berhenti menuntut. Agar tidak banyak sakit hati hiks. I'm still struggling with it.

Oya, ada banyak orang yang masih keliru lho, sebenernya, dosa seorang istri tu, bukan suami yang nanggung. Diri kita sendiri yang akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang kita lakukan terlepas itu suami/istri, anak/orangtua.

Tapii disitu kan ada kewajiban, kewajiban istri itu apa, kewajiban suami itu apa, sudah ditunaikan haknya apa belum, kalau terlalaikan? Sudah diingatkan atau belum? Nah itulah yang dititik beratkan.

Bukan berarti yaudah gapapa da dosanya ditanggung suami (lha da bukan pede amat) begitu pun orangtua. Dosa anak ya dosa anak. Dosa orangtua ya dosa orangtua. Namun ada kewajiban untuk mengingatkan, disitulah peran orang tua/suami.

Kewajiban mendidik, kewajiban mengarahkan. Kalau sudah ditunaikan? Berarti sudah gugur kewajiban..

Liat surat at-tahrim ayat 6 : jagalah dirimu, keluargamu, dari siksa api neraka — memperjuangkan istri agar masuk surga itu nggak mudah (menikah) dan bukankah tidak mendidik istri dan anak pada agama adalah sebuah kedzaliman?

Itu dari sisi pasangan. Dari sisi mertua/orangtua, gimana?

Aku sangat kagum denger kisahnya Ummu Sulaim dan Abu Thalhah ketika anaknya wafat. Dan irl, pada masa ini, kisahnya mbak Dena Haura sih, keren banget. Memang orang beriman tu takwanya next level yak 🥹 — cari sendiri aja ya, panjang.

Intinya tu, anak hanya titipan.

Dari sisi ibu mertua, yang seringkali kita temui tu, permasalahannya ya pasti dengan menantu perempuannya 😂

Kayak sudah terproyeksikan dari awal kalo ibu mertua tu galak, sensi terus, serba salah, karena mindset itu juga mungkin beberapa menantu perempuan jadi ada canggung/ sekat yang nggak terlihat dalam berinteraksi.

Memang semua butuh panduan. Inilah alasannya kita diwajibkan menuntut ilmu. Ilmu, bagaimana kita bermuamalah dengan orangtua, dengan teman dekatnya orangtua, dengan pasangan, dengan temannya pasangan, dengan orang yang dicintai oleh pasangan (ex: keluarga)

Semoga kita diberi rezeki yang berlimpah ruah oleh Allah. Dan salah satunya adalah anak yang shalih shalihah. Pasangan yang setia. Dan ibu mertua yang baik. Aamiin paling serius.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pangan Lokal

Halo teman-teman, setelah beberapa lama akhirnya saya memberanikan diri untuk memulai kembali menulis blog disini. Selama 6 bulan terakhir saya bekerja di Griya Arum Ayu Local Food yang mengolah produk makanan yang berasal dari bahan-bahan lokal. Selain itu juga disana saya ikut serta dalam sosialisasi pangan lokal melalui beberapa pelatihan yang diadakan disana. Berikut beberapa dokumentasi yang ingin saya bagikan Pelatihan Pengolahan Pangan Lokal Wanita Tani Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat Bersama PUSPITEK dan ARUM AYU. 23-25 September 2019. Dalam Rangka Peningkatan Kompetensi Guru Keterampilan Tataboga Program Revitalisasi Vokasi Bersama SK AS-SALAM 02 dan ARUM AYU. 7-11 Oktober 2019. Bina Kreativitas Perempuan Melalui Pelatihan Tataboga Pangan Lokal Dalam Rangka Meningkatkan Peran Serta dan Kesetaraan Gender Bersama DPMP3AKB KOTA TANGSEL dan ARUM AYU. 17-28 Februari 2020. Ketiganya adalah pengalaman yang sangat berkesan bagi saya, bisa be...

Ada Apa Sih Dengan Gluten di Tepung Terigu??

Apa itu gluten? Ketika saya masih di sekolah, saya belajar sedikit mengenai gluten. Pada saat itu saya hanya mengetahui bahwa gluten sebagai kandungan yang terdapat dalam tepung terigu. Namun belum mengetahui lebih jelasnya kenapa sebaiknya kita mengurangi konsumsi gluten ini. Setelah bergabung dengan Arum Ayu, saya banyak belajar lagi tentang gluten dan pangan lokal. Nah, gluten merupakan senyawa protein yang terdiri dari glutenin dan gliadin, adalah sejenis protein yang terdapat pada gandum dan tepung terigu. Gluten mengandung komponen protein yang disebut peptida. Gandum mengandung peptida. Begitu juga dengan tepung terigu. Bingung kan? Hehehe Oke lebih singkatnya, dalam proses pengolahan makanan, fungsi gluten adalah untuk menghasilkan tekstur yang kenyal, elastis, dan mengembang pada makanan (seperti roti dan kue). Efek elastis, kenyal, dan mengembang tersebut dihasilkan ketika tepung dicampurkan dengan air. Protein gluten akan membentuk jaringan-jaringan yang lengket...

#1

Rasanya sudah cukup aku membicarakan hal yang usang itu. Pengalaman yang memberikan pelajaran, rasa sakit, hal konyol sekaligus malah jadi bahan ketawaan ya kan. Haha. Yang ku fokuskan sekarang adalah keadaan aku, kita, saat ini. Aku yang dimasa lalu pernah dikecewakan berkali-kali, bahkan mungkin sekarang di sudut hati yang paling terpencil masih ada sisa-sisa luka itu. Ya, itu wajar. Mengapa tidak begitu kan, aku berkali-kali terluka hebat dikesalahan yang sama. Sampai akhirnya aku memilih untuk berhenti. Udahlahya. Yang lalu biarlah berlalu. Aku lebih suka menatap masa depan bersama kamu. Cieee.  Terakhir kali, ditanya "kamu baik-baik aja kan?" Jujur aku malah ketawa denger pertanyaan itu. Ya mungkin dulu dulu mah kalo ada yang nanya gitu auto nangesss. Jadi mikir, aku dimasa-masa itu mengusahakan untuk baik-baik aja, tapi sekarang jauh lebih baik dari harapan itu. Banyak hal yang ku syukuri, dengan pengalaman yang nggak enak itu aku menemukan banyak hal baru. Salah satuny...