Langsung ke konten utama

[LIFE UPDATE] : Mencoba Menerapkan Kembali Program Eat Clean

Beberapa kali post makanan real food banyak yang ngira aku lagi diet πŸ˜‚ “Neng udah kurus juga tapi makannya sayur”. Bukan karena mau kurus juga sih πŸ˜‚ justru aku mau BB ku naik minimal di 45-50 lah. Kalo lebih dari itu takutnya eungap πŸ˜‚ Tapi karena kayaknya aku punya fast metabolism, makan sebanyak apapun agak susah buat naikin BB, jalan pintasnya ya latihan beban biar naikin masa otot.


Setelah rutinin minum jus, pelan-pelan nerapin eat clean, badan kerasa lebih seger dan ringan gitu lho. Dulu aku insomnia, kalo bangun tidur badan lemes, setelah sarapan bukannya kenyang dan bertenaga malah jadi begah dan ngantuk, kalo lagi haid jerawatan dan bekasnya agak lama buat ilang, craving makanan manis terus, ngerasa haus terus, akibatnya sering banget bulak-balik buat pipis πŸ˜‚ karena lemes terus jadi pemalas dan minim gerak, kalo malem overthinking, mood dan tempramen tuh naik turun, pola tidur berantakan akibatnya kulit jadi kusam dan mata panda makin terpampang jelas πŸ˜‚ ah berantakan sekali pokoknya. So messy.


Sebenernya udah tau penyebabnya, dari artikel, buku, bahkan pernah di bidang pangan lokal juga. Dulu bisa ngikut “one day no rice” diganti jagung rebus, umbi rebus, nasi dari serelia kayak shorgum, bikin kue dari tepung lokal. Dalam seminggu dijadwalin satu hari makan tanpa processed food aka makanan kemasan atau jajan gofood.


Setelah balik ke Pandeglang mindsetnya selalu mikir “ah bakal susah nih kalo tetap nerapin eat clean, produk gluten free warga pdg masih awam, daya belinya ga masuk hitungan"


Pas awal aja pernah tes ombak jual produk kue-kue gluten free, tapi karena perbedaan harga bahan baku, arus ekonomi daerah, daya beli konsumen, sampe pengetahuan mengenai pangan lokal dan dampaknya masih minim, nggak bisa bersaing akhirnya.


Aku jadi semakin ngerti deh kenapa Pandeglang gaada makanan khas padahal tempatnya talas beneng. Petani lokal yang ngolah jadi tepung hasilnya di impor ke kota lain. Karena mereka punya SDM yang mencukupi untuk ngolah, brandingannya bagus, ya booming lah, jadi ada banyak cabang di seluruh Indo bahkan. Terkenal bolu talas sebagai oleh-oleh khas. Padahal komposisi tepung talasnya cuma beberapa persen doang, masih kebanyakan substitusi tepung terigunya.


Kenapa Pandeglang gabisa ngikutin?

Ya karena SDM kreatifnya nggak ada. Petaninya kurang dihargai, warga yang masih awam, dan banyak faktor.


Balik lagi soal real food 


Pas dijalanin ternyataaa ga sesusah itu sih. Ribetnya cuma harus mau belanja sendiri, ngolah sendiri, mikirin meal plan sendiri, mau buat belajar terus, banyak baca.


Real food itu sesimpel kita sarapan telur sesuka hati. Telur di rebus, dadar, ceplok juga bisa. Bikin soto ayam pake nasi, ubi, atau singkong. Suka-suka aja gaperlu bilang cocok pake karbo yang mana karena tiap orang seleranya bisa bedaπŸ™πŸ»πŸ˜‚


Di soto sudah ada kuah gurih dari bumbu rempah yang kaya rasa, pakai kunyit sebagai anti inflamasi, ditambah taburan daun bawang sebagai prebiotiknya. Seger rasanya karena pake potongan tomat 😍 itu real food.


Kenapa banyak yang masih mengira real food itu harus makan salad? Enggak juga kok, yang ada disekitar aja, semua selalu ada jalannya jika kita mau cari tau πŸ™πŸ» karena setiap orang punya tahapan dan kondisi masing-masing… sesimpel mengurangi gula garam, junkfood, fastfood hingga makanan ultra processed food itu aja kita udah nerapin eat clean.


Kita diminta Allah di Al-Qur'an makan makanan yang halal, baik/thayyib supaya bisa memberi manfaat buat tubuh sendiri dan orang lain.


Jadi kalau ada teman yang agak picky soal makanan, kalo jalan bareng minum air mineral aja, gaperlu dianggap si paling diet. Ya bisa jadi artinya dia sedang menjalankan visi misi hidupnya menyayangi dirinya sendiri… sekaligus secara tidak langsung mengiklankan dirinya untuk mengajak kita makan real food πŸ™πŸ»πŸ˜πŸ«°πŸ»


Realfood itu gaada iklannya, karena iklannya mahal butuh ketukan hati kita dulu supaya sampai termotivasi untuk memulai dan mencoba πŸ¦‹ 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pangan Lokal

Halo teman-teman, setelah beberapa lama akhirnya saya memberanikan diri untuk memulai kembali menulis blog disini. Selama 6 bulan terakhir saya bekerja di Griya Arum Ayu Local Food yang mengolah produk makanan yang berasal dari bahan-bahan lokal. Selain itu juga disana saya ikut serta dalam sosialisasi pangan lokal melalui beberapa pelatihan yang diadakan disana. Berikut beberapa dokumentasi yang ingin saya bagikan Pelatihan Pengolahan Pangan Lokal Wanita Tani Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat Bersama PUSPITEK dan ARUM AYU. 23-25 September 2019. Dalam Rangka Peningkatan Kompetensi Guru Keterampilan Tataboga Program Revitalisasi Vokasi Bersama SK AS-SALAM 02 dan ARUM AYU. 7-11 Oktober 2019. Bina Kreativitas Perempuan Melalui Pelatihan Tataboga Pangan Lokal Dalam Rangka Meningkatkan Peran Serta dan Kesetaraan Gender Bersama DPMP3AKB KOTA TANGSEL dan ARUM AYU. 17-28 Februari 2020. Ketiganya adalah pengalaman yang sangat berkesan bagi saya, bisa be...

Ada Apa Sih Dengan Gluten di Tepung Terigu??

Apa itu gluten? Ketika saya masih di sekolah, saya belajar sedikit mengenai gluten. Pada saat itu saya hanya mengetahui bahwa gluten sebagai kandungan yang terdapat dalam tepung terigu. Namun belum mengetahui lebih jelasnya kenapa sebaiknya kita mengurangi konsumsi gluten ini. Setelah bergabung dengan Arum Ayu, saya banyak belajar lagi tentang gluten dan pangan lokal. Nah, gluten merupakan senyawa protein yang terdiri dari glutenin dan gliadin, adalah sejenis protein yang terdapat pada gandum dan tepung terigu. Gluten mengandung komponen protein yang disebut peptida. Gandum mengandung peptida. Begitu juga dengan tepung terigu. Bingung kan? Hehehe Oke lebih singkatnya, dalam proses pengolahan makanan, fungsi gluten adalah untuk menghasilkan tekstur yang kenyal, elastis, dan mengembang pada makanan (seperti roti dan kue). Efek elastis, kenyal, dan mengembang tersebut dihasilkan ketika tepung dicampurkan dengan air. Protein gluten akan membentuk jaringan-jaringan yang lengket...

#1

Rasanya sudah cukup aku membicarakan hal yang usang itu. Pengalaman yang memberikan pelajaran, rasa sakit, hal konyol sekaligus malah jadi bahan ketawaan ya kan. Haha. Yang ku fokuskan sekarang adalah keadaan aku, kita, saat ini. Aku yang dimasa lalu pernah dikecewakan berkali-kali, bahkan mungkin sekarang di sudut hati yang paling terpencil masih ada sisa-sisa luka itu. Ya, itu wajar. Mengapa tidak begitu kan, aku berkali-kali terluka hebat dikesalahan yang sama. Sampai akhirnya aku memilih untuk berhenti. Udahlahya. Yang lalu biarlah berlalu. Aku lebih suka menatap masa depan bersama kamu. Cieee.  Terakhir kali, ditanya "kamu baik-baik aja kan?" Jujur aku malah ketawa denger pertanyaan itu. Ya mungkin dulu dulu mah kalo ada yang nanya gitu auto nangesss. Jadi mikir, aku dimasa-masa itu mengusahakan untuk baik-baik aja, tapi sekarang jauh lebih baik dari harapan itu. Banyak hal yang ku syukuri, dengan pengalaman yang nggak enak itu aku menemukan banyak hal baru. Salah satuny...