Kami menikah di akhir tahun lalu, 29 Desember 2024 —menutup tahun dengan janji, membuka hidup baru dengan harapan. Setelah menikah, aku ikut suami tinggal di kontrakan kecil yang menjadi saksi awal kami belajar hidup bersama. Kami menjalani kehidupan yang sederhana, aku di rumah menjaga dan merawat yang ada, menyiapkan makan, menyambut suami pulang kerja yang kadang datang dengan mata lelah tapi tetap membawa senyum dan pelukan hangat ketika kembali ke rumah. Malamnya, dia lanjut kerja sampingan hingga larut malam kadang sampai waktu fajar.
Sebenarnya, sebelum menikah kami merencanakan beberapa kegiatan berdua. Berlibur, menjelajahi tempat lain, berburu makanan yang cantik dan enak. Tapi satu bulan setelah menikah… alhamdulillah, Allah memberi kami amanah yang tak tergantikan, kejutan terindah, aku hamil. Rezeki yang datang lebih cepat dari dugaan, tapi tepat pada waktunya.
Di satu sisi, kami bersyukur luar biasa. Tapi kadang juga terlintas, "Waktu berdua kami kok terasa cepat banget, ya?"
—sebelum menikah, kami LDR selama satu tahun. Cinta kami tumbuh lewat layar dan doa. Dalam satu tahun itu, bisa dihitung jari berapa kali kami benar-benar duduk berdampingan. Kami menikah bukan karena sudah puas menikmati masa pacaran, tapi karena kami tahu, kami ingin tumbuh bersama—meski banyak hal belum sempat dijalani.
Dan sekarang, bahkan sebelum kami sempat menyelesaikan menjadi “berdua”, kami harus bersiap menjadi orang tua.
Tapi mungkin...
memang cinta kami terlalu penuh hingga Tuhan memberinya bentuk baru.
Seorang anak.
Buah dari waktu-waktu kami yang belum sempat kami nikmati tapi ternyata cukup untuk menciptakan kehidupan lain.
Mungkin waktu kami berdua memang sebentar, tapi rasa sayang yang tumbuh… semoga selalu ada bersama selamanya.
Komentar
Posting Komentar