Di Pandeglang melimpah sekali lho talas beneng. Apa itu talas beneng? Apa bedanya dengan talas Bogor? Simak yuk!
Salah satu jenis umbi-umbian yang banyak terdapat di Kabupaten Pandeglang dan belum dimanfaatkan secara optimal atau bahkan mungkin belum dikenal secara luas oleh masyarakat Pandeglang sendiri adalah talas beneng.
Talas Banten (Xanthosoma undipes) atau yang lebih dikenal dengan nama talas beneng merupakan singkatan dari kata besar dan koneng yang artinya berukuran besar dan berwarna kuning (koneng adalah kata dalam bahasa Sunda yang artinya kuning) merupakan jenis umbi yang memiliki prospek sebagai bahan pangan pokok dan fungsional.
Talas beneng yang berasal dari Kabupaten Pandeglang ini memiliki karakteristik yang berbeda dengan talas dari daerah lainnya. Talas ini memang memiliki ukuran yang jumbo atau lebih besar jika dibandingkan dengan talas lainnya (contoh talas Bogor), selain itu talas beneng juga memiliki umbi yang berwarna kuning dimana tanaman talas lain berwarna putih ke abu-abuan. Talas beneng memiliki nama ilmiah Xanthosoma undipes K. Koch.
Talas ini tumbuh liar di lereng gunung, memiliki batang yang besar dan panjang serta pada bagian akarnya terdapat umbi-umbi kecil (kimpul) yang bergerombol. Umbi beneng muncul diatas permukaan tanah, sedangkan talas lain terpendam.
Umbi talas beneng memiliki panjang mencapai 1,2-1,5 m dengan bobot 35-40 kg pada umur 2 tahun. Lingkar umbi mencapai 45-55 cm. Begitu kulit dikupas, tampak warna umbi kuning menyala. Pohonnya bisa sampai setinggi 2-2,5 m dengan daun raksasa sebesar 1 m.
Talas beneng memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan sebagai sumber pangan lokal. Ukurannya yang besar dengan kadar protein yang tinggi serta warna kuning yang menarik adalah kelebihan yang dimiliki talas beneng yang menjadi ciri khas yang tidak dimiliki talas jenis lainnya.
Walaupun mengandung kadar oksalat (senyawa yang membuat getah talas terasa gatal) yang tinggi akan tetapi perlakuan perendaman dalam garam dapat dilakukan untuk menurunkan kadar oksalat. Selain perendaman dengan garam, perlakuan perebusan juga dapat menurunkan kadar oksalat total talas hingga 77%. Selain itu juga terdapat perbedaan kadar oksalat antara talas yang tumbuh liar dengan talas yang dibudidayakan.
Pengolahan tepung menjadi aneka produk akan memperluas pemanfaatan talas beneng dalam upaya mendukung ketahanan pangan.
Asal muasal talas beneng adalah tanaman liar dalam hutan Gunung Karang (Pandeglang). Namun saat ini Pemerintah Daerah Banten telah membudidayakan talas beneng untuk dijadikan salah satu komoditi bahan pangan pokok di Provinsi Banten sehingga dapat menguatkan dan mengurangi kerawanan ketahanan pangan (BPTP Banten; 2015)
Saat ini talas beneng banyak terdapat di Kelurahan Juhut, Kecamatan Karangtanjung, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Kelurahan Juhut yang digolongkan sebagai desa “swasembada” berada di kawasan hutan lindung lereng Gunung Karang dengan ketinggian 250-700 m diatas permukaan laut. Sebagian besar wilayah bertopografi miring/lereng, dengan curah hujan sekitar 2000 mm/tahun, dengan iklim tipe B1 (klasifikasi Oldeman). Kelurahan Juhut berjarak ±15 KM dari kota Pandeglang.
Kelurahan Juhut terdiri dari 5 perkampungan, yaitu Cinyurup, Ciodeng, Canggoang, Kadu Salak, dan Mauk. Diantara perkampungan tersebut, Cinyurup merupakan tempat penanaman talas beneng yang paling banyak dilakukan. Disinilah sampel tanah dan akar untuk penelitian diambil.
Untuk pemanfaatannya, talas beneng banyak diolah oleh warga sekitar untuk dibuat menjadi keripik talas. Namun demikian karena masih terbatasnya alat dan sumber daya manusia di Juhut kebanyakan talas hanya dikupas dan diparut kemudian dijemur, setelah itu talas yang sudah dijemur dikirim ke Bogor untuk dijadikan tepung. Tepung tersebut bisa digunakan untuk membuat berbagai olahan makanan seperti brownies, dll.
Saya sendiri yang sering bulak-balik liburan ke Bogor sangat suka dan gemar sekali membeli Brownies dan Bolu Talas Sangkuriang untuk oleh-oleh. Merk ini memang sudah terkenal dimana-mana ya, tapi temen-temen tau enggak? Jumlah talas yang ada di Bogor tuh tidak mencukupi untuk kebutuhan produksi sebanyak itu gitu, makanya petani yang mengelola talas beneng di Pandeglang ini hasilnya sering dikirim ke Bogor. Kita mengirimkan bahan bakunya, terus diolah dengan kreatif disana, dengan ilmu pengolahan dan marketing yang bagus sukseslah merk Talas Sangkuriang dan merk Arasari dengan label bolu talas khas Bogor. Dan bahkan sekarang tuh outletnya di Indo ada dimana-mana. Nah, sedangkan di Pandeglang sendiri? Apa gitu lho oleh-oleh khasnya?
Sampe sini mulai tertarik enggak buat mengangkat kearifan lokal yang kita miliki?
Komentar
Posting Komentar