Langsung ke konten utama

 Orang tuh mudah umbar janji.

Ketemu temen, dari obrolan yang singkat atau berjam-jam seringkali ada selipan janji. 


“Besok jadi ke xxx?”

“Iya, insyaAllah.”

Nah, ini udah dapet 1 janji.


Masih di hari yang sama, ketemu temen lama yang mau nikahan.

“Nanti dateng ya dateng yaa..”

“Iya siap”

Dapet 2 janji.


Terus aja.

Kadang besoknya enggak sadar dan lupa.

“Oh iya, kemarin udah janji ya”


Di level yang kecil (contoh di atas), mungkin effort untuk menepati janjinya masih terbilang biasa, enggak susah, enggak bikin pusing.


Tapi dari hal-hal sederhana beginilah habit jadi kebentuk. Bisa jadi kebiasaan yang kurang baik.


Ketika suatu saat orang-orang yang kamu temui memaksamu untuk bikin janji yang lebih tinggi levelnya, dan kamu udah punya kebiasaan “iya”, “oke”, “boleh” secara sembarangan, ini bisa jadi bumerang.


Inget. Janji itu beban.

Di Islam udah ditegaskan bahwa menepati janji hukumnya wajib, mengabaikan janji itu berdosa. Semakin banyak bikin janji, maka semakin banyak juga beban. Kamu berjanji sama seseorang, itu juga artinya kamu hutang sama dia.


Hutang harus dilunasi.

Sedangkan dalam ilmu hutang, nominal (besaran/kuantitas) hutang harus dibatasi, ada rumusnya. Iya, maksimal hanya boleh menggunakan 30% dari dana yang kita punya. Kalau melebihi batas, maka hutang (janji) itu akan menjadi resiko yang enggak menyehatkan untuk yang bersangkutan.


Coba aja dihitung, dalam sebulan berapa kali kamu bikin janji? Dalam sepekan? Dalam sehari?


Kontrol hutang kamu, jangan sembarangan.


Jangan gampang bikin janji..


Janji ya untuk enggak (gampang) bikin janji.. *lah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pangan Lokal

Halo teman-teman, setelah beberapa lama akhirnya saya memberanikan diri untuk memulai kembali menulis blog disini. Selama 6 bulan terakhir saya bekerja di Griya Arum Ayu Local Food yang mengolah produk makanan yang berasal dari bahan-bahan lokal. Selain itu juga disana saya ikut serta dalam sosialisasi pangan lokal melalui beberapa pelatihan yang diadakan disana. Berikut beberapa dokumentasi yang ingin saya bagikan Pelatihan Pengolahan Pangan Lokal Wanita Tani Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat Bersama PUSPITEK dan ARUM AYU. 23-25 September 2019. Dalam Rangka Peningkatan Kompetensi Guru Keterampilan Tataboga Program Revitalisasi Vokasi Bersama SK AS-SALAM 02 dan ARUM AYU. 7-11 Oktober 2019. Bina Kreativitas Perempuan Melalui Pelatihan Tataboga Pangan Lokal Dalam Rangka Meningkatkan Peran Serta dan Kesetaraan Gender Bersama DPMP3AKB KOTA TANGSEL dan ARUM AYU. 17-28 Februari 2020. Ketiganya adalah pengalaman yang sangat berkesan bagi saya, bisa be...

Ada Apa Sih Dengan Gluten di Tepung Terigu??

Apa itu gluten? Ketika saya masih di sekolah, saya belajar sedikit mengenai gluten. Pada saat itu saya hanya mengetahui bahwa gluten sebagai kandungan yang terdapat dalam tepung terigu. Namun belum mengetahui lebih jelasnya kenapa sebaiknya kita mengurangi konsumsi gluten ini. Setelah bergabung dengan Arum Ayu, saya banyak belajar lagi tentang gluten dan pangan lokal. Nah, gluten merupakan senyawa protein yang terdiri dari glutenin dan gliadin, adalah sejenis protein yang terdapat pada gandum dan tepung terigu. Gluten mengandung komponen protein yang disebut peptida. Gandum mengandung peptida. Begitu juga dengan tepung terigu. Bingung kan? Hehehe Oke lebih singkatnya, dalam proses pengolahan makanan, fungsi gluten adalah untuk menghasilkan tekstur yang kenyal, elastis, dan mengembang pada makanan (seperti roti dan kue). Efek elastis, kenyal, dan mengembang tersebut dihasilkan ketika tepung dicampurkan dengan air. Protein gluten akan membentuk jaringan-jaringan yang lengket...

#1

Rasanya sudah cukup aku membicarakan hal yang usang itu. Pengalaman yang memberikan pelajaran, rasa sakit, hal konyol sekaligus malah jadi bahan ketawaan ya kan. Haha. Yang ku fokuskan sekarang adalah keadaan aku, kita, saat ini. Aku yang dimasa lalu pernah dikecewakan berkali-kali, bahkan mungkin sekarang di sudut hati yang paling terpencil masih ada sisa-sisa luka itu. Ya, itu wajar. Mengapa tidak begitu kan, aku berkali-kali terluka hebat dikesalahan yang sama. Sampai akhirnya aku memilih untuk berhenti. Udahlahya. Yang lalu biarlah berlalu. Aku lebih suka menatap masa depan bersama kamu. Cieee.  Terakhir kali, ditanya "kamu baik-baik aja kan?" Jujur aku malah ketawa denger pertanyaan itu. Ya mungkin dulu dulu mah kalo ada yang nanya gitu auto nangesss. Jadi mikir, aku dimasa-masa itu mengusahakan untuk baik-baik aja, tapi sekarang jauh lebih baik dari harapan itu. Banyak hal yang ku syukuri, dengan pengalaman yang nggak enak itu aku menemukan banyak hal baru. Salah satuny...