Orang tuh mudah umbar janji.
Ketemu temen, dari obrolan yang singkat atau berjam-jam seringkali ada selipan janji.
“Besok jadi ke xxx?”
“Iya, insyaAllah.”
Nah, ini udah dapet 1 janji.
Masih di hari yang sama, ketemu temen lama yang mau nikahan.
“Nanti dateng ya dateng yaa..”
“Iya siap”
Dapet 2 janji.
Terus aja.
Kadang besoknya enggak sadar dan lupa.
“Oh iya, kemarin udah janji ya”
Di level yang kecil (contoh di atas), mungkin effort untuk menepati janjinya masih terbilang biasa, enggak susah, enggak bikin pusing.
Tapi dari hal-hal sederhana beginilah habit jadi kebentuk. Bisa jadi kebiasaan yang kurang baik.
Ketika suatu saat orang-orang yang kamu temui memaksamu untuk bikin janji yang lebih tinggi levelnya, dan kamu udah punya kebiasaan “iya”, “oke”, “boleh” secara sembarangan, ini bisa jadi bumerang.
Inget. Janji itu beban.
Di Islam udah ditegaskan bahwa menepati janji hukumnya wajib, mengabaikan janji itu berdosa. Semakin banyak bikin janji, maka semakin banyak juga beban. Kamu berjanji sama seseorang, itu juga artinya kamu hutang sama dia.
Hutang harus dilunasi.
Sedangkan dalam ilmu hutang, nominal (besaran/kuantitas) hutang harus dibatasi, ada rumusnya. Iya, maksimal hanya boleh menggunakan 30% dari dana yang kita punya. Kalau melebihi batas, maka hutang (janji) itu akan menjadi resiko yang enggak menyehatkan untuk yang bersangkutan.
Coba aja dihitung, dalam sebulan berapa kali kamu bikin janji? Dalam sepekan? Dalam sehari?
Kontrol hutang kamu, jangan sembarangan.
Jangan gampang bikin janji..
Janji ya untuk enggak (gampang) bikin janji.. *lah
Komentar
Posting Komentar