Hi guys! Assalamualaikum, gimana kabarnya? Gimana puasanya?
Gue sekarang mau nulis lagi.
Bukan mau ngeluh lagi kayak dipost gue sebelumnya.
Kali ini gue mau cerita sedikit tentang pandangan gue terhadap manusia. Entah itu manusia lain, maupun gue sendiri.
Sebelumnya gue mau cerita dulu.
Enggak kayak sebelumnya gue ngeluh--ngeluh, sekarang kayak gue tuh mulai nerima disini, mulai belajar apa yang gue gatau disini, dan malah gue bersyukur ada disini. Gue jadi dapet banyak banget pelajaran. Entah itu dari hasil renungan gue sendiri, dari ketemu banyak orang, and anythings.
Udah lama banget uneg-uneg ini menuhin otak gue. Berhari-hari gue merenung dan berpikir (kayak yang kurang kerjaan yak, mikir melulu haha) Semakin banyak ketemu berbagai macam jenis manusia, gue liat, manusia makin lama makin aneh atau gue yang aneh? Ntah sifatnya, tingkah lakunya, pola pikirnya, cara ngomongnya.
Sampai akhirnya gue sadar, bahwa emang manusia itu gabisa ketebak isi otak dan hatinya, manusia itu banyak ragamnya ternyata.
Dan lagi yang gue perhatiin, manusia itu kodratnya emang suka ngeluh kali ya, suka nyalahin orang lain, suka nggak bersyukur sama apa yang udah dikasih. Kita terlalu banyak ngeluh. Inilah itulah, seharusnya ginilah, atau gue ga mau kayak gini, ini bukan yang gue mau dan yang lainnya. Padahal, apapun itu emang udah direncanain sama Tuhan kok. Cause if ur plan ga berjalan lancar, pasti Tuhan udah siapin be better plan for our. Kita terlalu banyak ga bersyukur gitu ga sih? Kita suka ngeribetin hal-hal yang ga penting. Kita yang buat susah dan sulit diri kita sendiri sebetulnya.
Gue juga sadar, gue suka banget ngeluh. Apalagi kemaren-kemaren, beuh.
Jadi mikir gitu, manusia itu membuat terlalu banyak judgement, penilaian yang sebetulnya malah membawa pengaruh negatif ke diri kita. Kita menilai diri kita nggak mampu untuk melakukan sesuatu atau banyak hal. Kita menilai diri kita tidak lebih dari sampah, sementara orang-orang lain banyak yang lebih pintar dan lebih sukses dari kita. Kita selalu ngeliat kekurangan diri, terus ngebanding--bandingin sama orang lain, kalau ketemu orang yang lebih baik bakalan jadi pesimis, begitu juga kalau ketemu orang yang lebih buruk bakalan optimis seharian.
Kayak gue tuh manusia yang penuh dengan pikiran buruk. Entah itu ke diri gue maupun ke orang lain. Apapun yang gue lakukan, gue tidak mencari baiknya, tapi malah mencari kurangnya. Gue mencari-cari perbedaan antara ekspektasi yang gue punya dengan realita yang ada dan mencoba mencari letak kesalahannya.
Alhasil gue nggak pernah bersyukur. Gue nggak pernah mengapresiasi apa yang diri gue lakukan dan apa yang gue punya. Gue nggak pernah menghargai diri gue sendiri.
Selain mencari keburukan diri sendiri, kita juga seneng banget mencari keburukan orang lain. Kalau kita ketemu sama seseorang, yang pertama kali kita lakukan adalah meng-scanning dirinya dan mencari celanya. Entah itu muka ataupun bagian fisik lainnya. Setelah selesai meng-scanning fisiknya, kita lanjut dengan meng-scanning hidupnya.
Ternyata orang yang tidak menghargai diri sendiri biasanya juga tidak menghargai orang lain lho.
Karena perlakuan gue ke orang lain juga nggak jauh beda gitu. Setiap kali gue ketemu orang, yang gue cari selalu kurangnya. Mengukur-ngukur proporsi wajahnya. Kalau jidatnya lebih lebar dari "ideal"nya, jidatnya lah yang menjadi fokus pertama gue. Begitu juga kalau lengannya lebih gemuk dari pergelangan tangannya, kalimat "Gendut juga ni cewe." sudah terucap di dalam hati.
Karena mungkin begitulah manusia. Suka mencari kekurangan. Nggak tau caranya menghargai diri sendiri, tapi minta dihargai orang lain. Padahal kita ini adalah mahluk yang paling nggak bisa melakukan hal tersebut.
Gue tau caranya menghargai diri gue sendiri. Gue tau caranya menyayangi diri gue sendiri. Gue tau caranya mengapresiasi diri gue sendiri.
That's the key, my friend.
Semoga kita semua lebih tau cara menghargai diri dan bersyukur dengan keadaan yang ada.
Gue sekarang mau nulis lagi.
Bukan mau ngeluh lagi kayak dipost gue sebelumnya.
Kali ini gue mau cerita sedikit tentang pandangan gue terhadap manusia. Entah itu manusia lain, maupun gue sendiri.
Sebelumnya gue mau cerita dulu.
Enggak kayak sebelumnya gue ngeluh--ngeluh, sekarang kayak gue tuh mulai nerima disini, mulai belajar apa yang gue gatau disini, dan malah gue bersyukur ada disini. Gue jadi dapet banyak banget pelajaran. Entah itu dari hasil renungan gue sendiri, dari ketemu banyak orang, and anythings.
Udah lama banget uneg-uneg ini menuhin otak gue. Berhari-hari gue merenung dan berpikir (kayak yang kurang kerjaan yak, mikir melulu haha) Semakin banyak ketemu berbagai macam jenis manusia, gue liat, manusia makin lama makin aneh atau gue yang aneh? Ntah sifatnya, tingkah lakunya, pola pikirnya, cara ngomongnya.
Sampai akhirnya gue sadar, bahwa emang manusia itu gabisa ketebak isi otak dan hatinya, manusia itu banyak ragamnya ternyata.
Dan lagi yang gue perhatiin, manusia itu kodratnya emang suka ngeluh kali ya, suka nyalahin orang lain, suka nggak bersyukur sama apa yang udah dikasih. Kita terlalu banyak ngeluh. Inilah itulah, seharusnya ginilah, atau gue ga mau kayak gini, ini bukan yang gue mau dan yang lainnya. Padahal, apapun itu emang udah direncanain sama Tuhan kok. Cause if ur plan ga berjalan lancar, pasti Tuhan udah siapin be better plan for our. Kita terlalu banyak ga bersyukur gitu ga sih? Kita suka ngeribetin hal-hal yang ga penting. Kita yang buat susah dan sulit diri kita sendiri sebetulnya.
Gue juga sadar, gue suka banget ngeluh. Apalagi kemaren-kemaren, beuh.
Jadi mikir gitu, manusia itu membuat terlalu banyak judgement, penilaian yang sebetulnya malah membawa pengaruh negatif ke diri kita. Kita menilai diri kita nggak mampu untuk melakukan sesuatu atau banyak hal. Kita menilai diri kita tidak lebih dari sampah, sementara orang-orang lain banyak yang lebih pintar dan lebih sukses dari kita. Kita selalu ngeliat kekurangan diri, terus ngebanding--bandingin sama orang lain, kalau ketemu orang yang lebih baik bakalan jadi pesimis, begitu juga kalau ketemu orang yang lebih buruk bakalan optimis seharian.
Kayak gue tuh manusia yang penuh dengan pikiran buruk. Entah itu ke diri gue maupun ke orang lain. Apapun yang gue lakukan, gue tidak mencari baiknya, tapi malah mencari kurangnya. Gue mencari-cari perbedaan antara ekspektasi yang gue punya dengan realita yang ada dan mencoba mencari letak kesalahannya.
Alhasil gue nggak pernah bersyukur. Gue nggak pernah mengapresiasi apa yang diri gue lakukan dan apa yang gue punya. Gue nggak pernah menghargai diri gue sendiri.
Selain mencari keburukan diri sendiri, kita juga seneng banget mencari keburukan orang lain. Kalau kita ketemu sama seseorang, yang pertama kali kita lakukan adalah meng-scanning dirinya dan mencari celanya. Entah itu muka ataupun bagian fisik lainnya. Setelah selesai meng-scanning fisiknya, kita lanjut dengan meng-scanning hidupnya.
Ternyata orang yang tidak menghargai diri sendiri biasanya juga tidak menghargai orang lain lho.
Karena perlakuan gue ke orang lain juga nggak jauh beda gitu. Setiap kali gue ketemu orang, yang gue cari selalu kurangnya. Mengukur-ngukur proporsi wajahnya. Kalau jidatnya lebih lebar dari "ideal"nya, jidatnya lah yang menjadi fokus pertama gue. Begitu juga kalau lengannya lebih gemuk dari pergelangan tangannya, kalimat "Gendut juga ni cewe." sudah terucap di dalam hati.
Karena mungkin begitulah manusia. Suka mencari kekurangan. Nggak tau caranya menghargai diri sendiri, tapi minta dihargai orang lain. Padahal kita ini adalah mahluk yang paling nggak bisa melakukan hal tersebut.
Gue tau caranya menghargai diri gue sendiri. Gue tau caranya menyayangi diri gue sendiri. Gue tau caranya mengapresiasi diri gue sendiri.
That's the key, my friend.
Semoga kita semua lebih tau cara menghargai diri dan bersyukur dengan keadaan yang ada.
Komentar
Posting Komentar