Untuk Mr. X
Kepadamu yang masih terus kusebutkan dalam doa-doaku. Yang masih saja kuceritakan kepada Tuhan penciptamu. Aku berterima kasih padanya, karena telah melibatkankan dirimu dalam perjalanan yang kujalankan ini. Seseorang yang hanya bisa aku kirimi isyarat halus. Kekasih tanpa ikrar sejatinya.
Untukmu kutulis puisi, sajak-sajak berdampingan bukannya ilusi. Kuperintahkan mereka bentuk rasa lewat satu komposisi. Aku di sini kendalikan perasaanmu lewat diksi, sembunyikan diri dibalik barisan aksara ini. Aku tak mahir soal cinta. Terkadang tak paham apa itu rasa, sapa aku lewat puisiku saja. Sembunyikan rasa..
Sering kita bicara rasa.. Tanpa sadar, ia hanya akan menetap dalam asa. Aku sembunyi dalam tawa yang rupawan, mengagumimu yang menawan. Aku berlari, berharap waktu akan menemani, tapi seiring dengan kehadiranmu yang melulu semu aku menjadi bertanya-tanya; mungkinkah cerita ini punya akhir? Atau bahkan, adakah benarnya awal? Aku ingin sekali menyatakan asa yang kian terasa. Namun, ini perihal kita bisa jadi salah duga atau bahkan salah harapan; entah bertepuk sebelah tangan atau terlalu berperasaan?
Kau dan aku mati. Dalam pelukan yang tersunyi. Jauh terkenang dekat terbuang, kita hanyalah sebatas wayang yang tak akan pernah sanggup nyata berjuang. Lalu sendiri diam,- Habis ditelan angan.. Dipermainkan oleh ingin.
Ingin jatuh cinta tapi menyerah, ingin menyerah tapi jatuh cinta..
Hmm...
Cinta, dia menghilangkan sadar diluar nalar..
Ramainya kata yang kau hantur tertata menjadi kalimat yang menjadikan pengap dalam relungku, sesak yang tak terhitung. Kau menarikku dengan sebuah hati.. Kenanganku bersamamu jatuh dari tanah ke langit-langit, membuat darahku berlari berkumpul dipijakan.
Seiring jalannya waktu, aku semakin bertanya-tanya. Mengapa waktu itu kita tidak jadi satu? Mungkinkah jika diibaratkan, aku di utara kamu di selatan? Satu dunia namun di kutub berbeda? Kamu mau kesana dan aku perlu ke tempat yang berbeda.
Kau dan aku.. Hanyalah yang muda yang masih berharap tuk hidup berdua lewat indahnya rajutan kata, apa salahnya aku tulis rasa lewat syair cinta ini?
Izin diriku tuk tetap berada di belakangmu, bukan untuk memiliki kamu, tapi hanya untuk menjadi yang setia menyayangi kamu.
Aku tak mau mendaki tangga harapan itu lebih tinggi lagi. Karena semakin tinggi kita mendakinya maka jatuhnya akan menyakitkan. Berlebam penuh sesak. Tetapi hey?
Berdarahkah benda mati? Berdarahkah sebuah hati?
Terserah mau diapakan puisi ataupun perasaan yang aku sebarkan disetiap hurufnya. Itu aku serahkan kembali kepada kamu.
....
Gue gatau rincinya pembuatan puisi ini kapan dan dimana, tapi puisi ini bersejarah sekali bagi kami 😂😂 so, I wanna put they in here.
Kepadamu yang masih terus kusebutkan dalam doa-doaku. Yang masih saja kuceritakan kepada Tuhan penciptamu. Aku berterima kasih padanya, karena telah melibatkankan dirimu dalam perjalanan yang kujalankan ini. Seseorang yang hanya bisa aku kirimi isyarat halus. Kekasih tanpa ikrar sejatinya.
Untukmu kutulis puisi, sajak-sajak berdampingan bukannya ilusi. Kuperintahkan mereka bentuk rasa lewat satu komposisi. Aku di sini kendalikan perasaanmu lewat diksi, sembunyikan diri dibalik barisan aksara ini. Aku tak mahir soal cinta. Terkadang tak paham apa itu rasa, sapa aku lewat puisiku saja. Sembunyikan rasa..
Sering kita bicara rasa.. Tanpa sadar, ia hanya akan menetap dalam asa. Aku sembunyi dalam tawa yang rupawan, mengagumimu yang menawan. Aku berlari, berharap waktu akan menemani, tapi seiring dengan kehadiranmu yang melulu semu aku menjadi bertanya-tanya; mungkinkah cerita ini punya akhir? Atau bahkan, adakah benarnya awal? Aku ingin sekali menyatakan asa yang kian terasa. Namun, ini perihal kita bisa jadi salah duga atau bahkan salah harapan; entah bertepuk sebelah tangan atau terlalu berperasaan?
Kau dan aku mati. Dalam pelukan yang tersunyi. Jauh terkenang dekat terbuang, kita hanyalah sebatas wayang yang tak akan pernah sanggup nyata berjuang. Lalu sendiri diam,- Habis ditelan angan.. Dipermainkan oleh ingin.
Ingin jatuh cinta tapi menyerah, ingin menyerah tapi jatuh cinta..
Hmm...
Cinta, dia menghilangkan sadar diluar nalar..
Ramainya kata yang kau hantur tertata menjadi kalimat yang menjadikan pengap dalam relungku, sesak yang tak terhitung. Kau menarikku dengan sebuah hati.. Kenanganku bersamamu jatuh dari tanah ke langit-langit, membuat darahku berlari berkumpul dipijakan.
Seiring jalannya waktu, aku semakin bertanya-tanya. Mengapa waktu itu kita tidak jadi satu? Mungkinkah jika diibaratkan, aku di utara kamu di selatan? Satu dunia namun di kutub berbeda? Kamu mau kesana dan aku perlu ke tempat yang berbeda.
Kau dan aku.. Hanyalah yang muda yang masih berharap tuk hidup berdua lewat indahnya rajutan kata, apa salahnya aku tulis rasa lewat syair cinta ini?
Izin diriku tuk tetap berada di belakangmu, bukan untuk memiliki kamu, tapi hanya untuk menjadi yang setia menyayangi kamu.
Aku tak mau mendaki tangga harapan itu lebih tinggi lagi. Karena semakin tinggi kita mendakinya maka jatuhnya akan menyakitkan. Berlebam penuh sesak. Tetapi hey?
Berdarahkah benda mati? Berdarahkah sebuah hati?
Terserah mau diapakan puisi ataupun perasaan yang aku sebarkan disetiap hurufnya. Itu aku serahkan kembali kepada kamu.
....
Gue gatau rincinya pembuatan puisi ini kapan dan dimana, tapi puisi ini bersejarah sekali bagi kami 😂😂 so, I wanna put they in here.
Komentar
Posting Komentar