Sumber gambar saya dapatkan dari pinterest.
Cerita tentang asal mula tumbuh-tumbuhan Nusantara sangat banyak versinya, salah satu yang telah saya baca adalah mitologi tentang Dewi Sri dan Ratna Dumila yang berasal dari kawasan Indonesia bagian barat, di Jawa dan Bali. Padi dipercaya berasal dari jenazah Dewi Sri, selain padi terdapat banyak tanaman lain yang juga berasal dari jenazah Dewi Sri. Dari tubuhnya tumbuh pohon aren, dari kepalanya tumbuh pohon kelapa, dari tubuhnya tumbuh pohon buah-buahan, dan dari kakinya tumbuh umbi-umbian serta talas. Namun demikian, narasi umum yang dikenal masyarakat Jawa saat ini menyebutkan bahwa Dewi Sri hanya menjadi dewi padi.Dikutip dari sebuah buku "Sorgum Benih Leluhur Untuk Masa Depan" karya dari Bapak Ahmad Arif
Dan ditulis ulang disini oleh saya dengan tujuan agar teman-teman juga bisa membacanya. Cerita yang ingin saya tulis ulang disini yaitu mitologi tentang Tonu Wujo yang dikenal cukup luas di kalangan masyarakat Lamaholot, yaitu orang-orang yang mendiami bagian timur pulau Flores, pulau Adonara dan Solor.
Musim hujan tiba. Semak belukar dan rerumputan telah dibersihkan. Namun, tak ada benih yang bisa ditanam. Tujuh bersaudara kebingungan ditengah-tengah hamparan ladang yang kosong, hingga satu-satunya anak perempuan dari keluarga tersebut yang bernama Tonu Wujo, tiba-tiba berujar "saya ini benih." Belum habis rasa bingung keenam saudara laki-lakinya, Tonu Wujo meminta mereka untuk membunuh dan menanam bagian-bagian tubuhnya di ladang itu. Tentu saja mereka awalnya keberatan. Namun, dia berkeras hati meyakinkan bahwa itu satu-satunya jalan bagi keluarga mereka untuk mendapatkan benih. Keenam saudaranya masih terdiam. Mereka tak sanggup membayangkan harus memenggal satu-satunya saudara perempuan. Tonu Wujo tetap pada pendiriannya. Dia duduk berserah diri di atas misbah batu di tengah-tengah ladang. Akhirnya sang sulung maju ke depan dan mengangkat parangnya. Namun dia tak kuasa menebaskan parang, karena rasa sayang pada Tonu Wujo menggelayuti hati. Saudara kedua kemudian maju. Kejadian serupa berulang. Tangannya tak sanggup mengayunkan parang, demikian seterusnya hingga saudara kelima. Tiba giliran si bungsu. Barulah dia punya kuasa menebaskan parang ke leher saudarinya. Perempuan itupun meninggal seketika. Sesuai pesan, keenam saudara itu kemudian membagi-bagi bagian tubuh Tonu Wujo dan menguburnya ke segala penjuru mata angin. Kedua tangan dikubur di arah timur dan barat, kedua kaki di utara dan selatan, sedangkan kepala, jantung dan hatinya ditanam ditengah ladang. Sesuai wasiat Tonu Wujo, mereka kemudian pulang dan baru boleh kembali ke ladang setelah 7 hari. Pada hari kedelapan enam saudara laki-laki ini akhirnya kembali ke ladang dan menemukan aneka jenis tanaman tumbuh subur, mulai dari padi, jagung, jewawut, sorgum, mentimun, labu dan berbagai umbi-umbian.
-Dituturkan oleh Klemens Ama Koten (52 tahun) petani dan pendiri Kelompok Tani Sorgum Ado Bera, Desa Ratu Lodong, Kecamatan Tanjung Bunga, Flores Timur.-
Katanya, sebelum pengorbanan Tonu Wujo ini, disana hanya ada umbi-umbian. Belum ada yang biji-bijian. Dan karena benih ini dari darah dan tubuh leluhur, maka hampir disetiap tahap tanam sampai panen ada ritualnya. Masyarakat disana belum bisa makan beras sebelum ada ritual makan sorgum. Jadi, sorgum harus tetap ada. Walaupun sekarang masyarakat di Flores sudah tanam padi, kalau tidak tanam sorgum tidak bisa panen padi. Cukup menarik ya teman-teman.
Dari cerita yang saya tulis ulang disini menurut teman-teman hal apa sih yang bisa kita dapat?
Kalau saya, lebih banyak muncul pertanyaan setelah tahu tentang mitologi Tonu Wujo ini. Pertama, Tonu Wujo ini bilang dia adalah benih kepada enam saudara laki-lakinya. Kenapa ya harus Tonu Wujo? Kenapa malah yang perempuan?
Setelah itu, kenapa anak bungsu yang berhasil memenggal kepala Tonu Wujo?
Kalau ini menurut saya karena gaada pilihin lagi, kalau bukan dia siapa lagi. Keenam saudaranya sudah tidak sanggup. Dia rela mengesampingkan perasaannya demi masa depan yang lebih baik. Kalau dianalogikan, si bungsu ini seperti generasi kita sekarang, kalau bukan kita siapa lagi yang akan mempertahankan pangan lokal agar tetap ada di masa mendatang. Jadi teringat motto IPB, "Alam yang kita punya bukan warisan leluhur, tetapi kita yang meminjamnya dari anak cucu kita."
Dan kenapa keenam laki-laki itu baru boleh kembali ke ladang setelah hari ke 7?
A! Katanya sebelum pengorbanan Tonu Wujo juga umbi-umbian sudah ada, ada apa ya dengan tanaman umbi-umbian?
Menjawab yang ini, temen-temen setuju enggak sih? Kalau tanaman umbi-umbian itu jenis tanaman yang tidak berpengaruh terhadap cuaca dan musim. Mau hujan, mau panas, singkong tetap bisa tumbuh. "Tongkat kayu dan batu jadi tanaman.." iya kan? Berbeda dengan padi kalau musim hujan atau musim kemarau akan berpengaruh pada hasil panennya. Itulah mengapa singkong dan tanaman umbi-umbian ini bisa dikatakan pangan yang menjanjikan untuk masa depan.
Setelah itu juga masyarakat selalu mengadakan ritual ditiap tahap tanam sampai panen. Hmm... Dan kenapa harus tanam sorgum dulu baru bisa tanam beras? Atau kenapa harus tetap makan sorgum padahal nantinya makan beras?
Its okey temen-temen gausah dibikin pusing. Nusantara sebelum masuk Agama Hindu, Budha, Islam, salah satu kepercayaannya yaitu menyembah leluhur/nenek moyang dan jati diri itu masih tetap ada di Indonesia salah satunya dalam ritual-ritual ini. Dan itulah yang membuat Indonesia itu beragam. Harus bangga dong jadi bagiannya!
Mitologi yang dipercayai ini, merupakan sebuah ekspresi budaya yang mana terdapat ratusan bahkan ribuan tahun sejarah masyarakat yang tersembunyi dibaliknya. Lewat cerita itu kita bisa menemukan cara masyarakat memaknai kehidupan dan mengolah lingkungan sekitarnya. Pemaknaan dan pengolahan itulah yang menjadi dasar kultural dan seni budaya. Sungguh indah Indonesia. 💜

Komentar
Posting Komentar