Langsung ke konten utama

Serba-serbi Tepung Mocaf

Umbi-umbian merupakan bahan hasil pertanian yang mudah rusak. Masa simpan umbi-umbian seperti ketela pohon hanya berkisar antara 4-5 hari, jika melebihi dari itu umbi ketela pohon akan menjadi hitam dan biru.

Selain dari masa simpannya, umbi-umbian biasanya memiliki nilai ekonomis yang tidak terlalu tinggi. Oleh karena itu perlu dilakukan pengolahan sehingga masa simpan dan nilai ekonomisnya akan meningkat. Salah satunya dengan cara ditepungkan.

Pada postingan kali ini saya akan memperkenalkan tepung mocaf (modified cassava flour/tepung singkong yang sudah dimodifikasi)

Nah loh, kok dimodifikasi, kenapa?
Iya karena untuk supaya karakteristiknya bisa mirip dengan terigu tapi produk ini gluten free.

Kita ulas lagi ya postingan kemarin. Gluten itu merupakan senyawa protein yang dimana hanya terdapat didalam gandum yang kemudian gandum ini diolah menjadi tepung terigu.

Gluten bisa bahaya memangnya untuk tubuh kita?
Gluten memiliki sifat seperti karet dan bisa menyebabkan usus kita menjadi lengket. Untuk bahasan lebih lanjut tentang gluten sudah saya publish yaa.. teman-teman bisa mampir dulu kalau belum baca Klik disini

Kembali lagi ke tepung mocaf,
Mocaf, tepung singkong, tepung tapioka/kanji itu berbeda ya teman-teman.

Dalam proses pembuatan tepung singkong tidak melibatkan proses fermentasi/penambahan starter, hanya sebatas singkong dijadikan chips lalu dikeringkan kemudian ditepungkan.

Sedangkan dalam proses pembuatan tepung mocaf setelah singkong menjadi chips direndam dengan menggunakan stater BIMO CF (Biologically Modified Cassava Flour) dengan perbandingan 1 gram stater : 1 kg singkong : 1 liter air, selama 12 jam (jika tidak menggunakan stater direndam selama 3 hari dengan catatan tiap 12 jam sekali diganti airnya) lalu kemudian baru dikeringkan dengan menggunakan blower dan oven/dijemur kemudian setelah itu ditepungkan.

BIMO CF ini buatan anak bangsa lho temen-temen, ini dibuat oleh mahasiswa IPB. Makin bangga kan?!

BIMO CF ini ada sebagai stater/pemicu untuk memodifikasi tepung singkong secara biologis (seperti bau dan warnanya) agar karakteristiknya lebih mendekati tepung terigu.

Beda lagi dengan tepung tapioka, yang banyak beredar diwarung-warung. Dalam pembuatannya singkong diblender/diparut lalu diberi air untuk kemudian diendapkan, endapan/patinya inilah yang nantinya dikeringkan lalu diblender/ditepungkan. Barulah jadi tepung kanji.

Beda lagi lho sagu dengan tepung kanji. Tepung kanji/tapioka itu dari singkong, sedangkan sagu itu ada pohonnya yang mana ini banyak sekali terdapat di Papua.

Kenapa sih harus singkong? Bukan sukun, garut, pisang, ganyong, kan itu pangan lokal juga?
Sebetulnya untuk tepung-tepungan pangan lokal ada juga temen-temen, tepung pisang, tepung sukun, tepung ubi ungu, dan lainnya. Kalau di Pandeglang sendiri, ada namanya Pak Dudi, yang concern dibidang itu. Kalau ada dari temen-temen yang tertarik buat kepoin langsung aja dateng ke Kp. Pasir Waru Kadumerak tepatnya sebelum PDAM ada tempat jualan bunga gitu masuk gang, dibelakangnya.

Kenapa singkong? Karena untuk Garut, ganyong, sukun itu agak susah didapat ya. Kalau tanaman singkong, didepan rumah juga bisa ditanam kan? Atau cari ke pasar juga masih bisa kita temui, juga ditiap daerah pasti ada sih. Makanya produk-produk gluten free gitu banyaknya mengolah dari tepung mocaf. Karena lebih prefer ke mocaf karena mocaf seenggaknya lebih mendekati karakteristik si terigu.

Kenapa sih enggak pakai terigu aja?
Memang betul ya temen-temen. Terigu itu ranking 1 ditepung-tepungan. Kenapa enggak gitu, diwarung-warung kecil aja so pasti ada yang jual terigu. Ditiap rumah kalau masak ya pakai terigu. Yang jual gorengan juga pakai terigu. Cari kiri-kanan pasti ada terigu.

Padahal nih temen-temen, terigu itu dari gandum. Dan gandum tidak dapat ditanam di Indonesia. Bisa sih ditanam, tapi tidak memberikan nilai ekonomisnya. Tetep bisa panen, tapi hasilnya tidak bagus. Karena gandum tanaman yang berasal dari luar negeri. Iklimnya berbeda dengan Indonesia. Petani gandum yang diuntungkan dengan konsumsi terigu oleh kita. Yang mana banyaknya itu dari Rusia, Australia, dan Amerika. Makin jayalah mereka.

Upaya apa sih yang bisa kita lakukan agar terlepas dari ketergantungan ini?
Anak bangsa sudah menghadirkan mocaf. Ini adalah salah satu upaya pemanfaatan kearifan lokal yang mana tepung mocaf ini berasal dari singkong. Setelah menjadi tepung, kita bisa mengolah apapun dan bisa mengurangi konsumsi tepung terigu.

Semakin banyak pangan lokal yang digunakan maka import produk luar dapat ditekan, dan masyarakat menjadi lebih sehat karena mocaf ini bebas dari gluten. Kemudian dengan memaksimalkan pengolahan pangan lokal yang akan menikmati adalah petani kita petani Indonesia, bukan petani Rusia atau Amerika.

Karena pendapatan petani akan bisa meningkat, kesejahteraan pun bisa membaik. Kuncinya ada di demand side. Jika permintaan pasar untuk pangan lokal meningkat, petani akan lebih bergairah untuk menanam tanaman lokal. Kemudian pedagang yang akan diuntungkan.

Sumber pangan lokal dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin. Jika masyarakat sudah memanfaatkan pangan lokal, maka ketergantungan impor bangsa ini akan bisa dikurangi. Usaha panganan dari sumber pangan lokal masih memiliki pasar yang luas. Peran pemerintahlah yang kini dibutuhkan, kenapa? Karena masyarakat luas untuk mengakses tepung lokal ini belum semudah mengakses tepung terigu.

Setidaknya, disetiap Alfamart/Indomaret sediakanlah satu tray saja, untuk mendisplay tepung-tepung lokal. Jadi tidak melulu menyediakan Bogasari. Yang harus ikut serta dalam upaya ini ya pemerintah daerah. Karena lebih memiliki kuasa untuk peraturan tiap daerahnya.

Kalau di Indomaret Tangerang, dulu saya pernah lihat sudah disediakan produk-produk cemilan dari pangan lokal kalau tidak salah merknya Rasaloka? Pada saat itu Bu Airin yang menjabat. Pandeglang kapan nih di Indomaret/Alfamart ada tepung mocafnya?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pangan Lokal

Halo teman-teman, setelah beberapa lama akhirnya saya memberanikan diri untuk memulai kembali menulis blog disini. Selama 6 bulan terakhir saya bekerja di Griya Arum Ayu Local Food yang mengolah produk makanan yang berasal dari bahan-bahan lokal. Selain itu juga disana saya ikut serta dalam sosialisasi pangan lokal melalui beberapa pelatihan yang diadakan disana. Berikut beberapa dokumentasi yang ingin saya bagikan Pelatihan Pengolahan Pangan Lokal Wanita Tani Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat Bersama PUSPITEK dan ARUM AYU. 23-25 September 2019. Dalam Rangka Peningkatan Kompetensi Guru Keterampilan Tataboga Program Revitalisasi Vokasi Bersama SK AS-SALAM 02 dan ARUM AYU. 7-11 Oktober 2019. Bina Kreativitas Perempuan Melalui Pelatihan Tataboga Pangan Lokal Dalam Rangka Meningkatkan Peran Serta dan Kesetaraan Gender Bersama DPMP3AKB KOTA TANGSEL dan ARUM AYU. 17-28 Februari 2020. Ketiganya adalah pengalaman yang sangat berkesan bagi saya, bisa be...

Ada Apa Sih Dengan Gluten di Tepung Terigu??

Apa itu gluten? Ketika saya masih di sekolah, saya belajar sedikit mengenai gluten. Pada saat itu saya hanya mengetahui bahwa gluten sebagai kandungan yang terdapat dalam tepung terigu. Namun belum mengetahui lebih jelasnya kenapa sebaiknya kita mengurangi konsumsi gluten ini. Setelah bergabung dengan Arum Ayu, saya banyak belajar lagi tentang gluten dan pangan lokal. Nah, gluten merupakan senyawa protein yang terdiri dari glutenin dan gliadin, adalah sejenis protein yang terdapat pada gandum dan tepung terigu. Gluten mengandung komponen protein yang disebut peptida. Gandum mengandung peptida. Begitu juga dengan tepung terigu. Bingung kan? Hehehe Oke lebih singkatnya, dalam proses pengolahan makanan, fungsi gluten adalah untuk menghasilkan tekstur yang kenyal, elastis, dan mengembang pada makanan (seperti roti dan kue). Efek elastis, kenyal, dan mengembang tersebut dihasilkan ketika tepung dicampurkan dengan air. Protein gluten akan membentuk jaringan-jaringan yang lengket...

#1

Rasanya sudah cukup aku membicarakan hal yang usang itu. Pengalaman yang memberikan pelajaran, rasa sakit, hal konyol sekaligus malah jadi bahan ketawaan ya kan. Haha. Yang ku fokuskan sekarang adalah keadaan aku, kita, saat ini. Aku yang dimasa lalu pernah dikecewakan berkali-kali, bahkan mungkin sekarang di sudut hati yang paling terpencil masih ada sisa-sisa luka itu. Ya, itu wajar. Mengapa tidak begitu kan, aku berkali-kali terluka hebat dikesalahan yang sama. Sampai akhirnya aku memilih untuk berhenti. Udahlahya. Yang lalu biarlah berlalu. Aku lebih suka menatap masa depan bersama kamu. Cieee.  Terakhir kali, ditanya "kamu baik-baik aja kan?" Jujur aku malah ketawa denger pertanyaan itu. Ya mungkin dulu dulu mah kalo ada yang nanya gitu auto nangesss. Jadi mikir, aku dimasa-masa itu mengusahakan untuk baik-baik aja, tapi sekarang jauh lebih baik dari harapan itu. Banyak hal yang ku syukuri, dengan pengalaman yang nggak enak itu aku menemukan banyak hal baru. Salah satuny...