Hello. Kali ini gue mau ngepost jurnal disini. Karena ini blog pribadi, jadi isinya random tentang apapun itu yang ada di otak gue tulis disini. 3 postingan terakhir ngebahas tentang pangan lokal. Gue mau lebih serius lagi mendalami pangan lokal, jadi niatnya sih mau buat blog baru yang khusus ngebahas topik itu dengan lebih formal menggunakan bahasa yang baku dan jalur komunikasi satu arah gitu lho. Kemarin malem gue belajar coding sih, tapi itu memang susah.
Mau lebih keliatan profesional lagi dengan punya website resmi weehh hehe... Beli domainnya lumayan, dan gue belum ngerti-ngerti amat masalah SEO. Takutnya kena malware atau kerusakan robot. Masalahnya kalau udah beli domain, web itu jadi kita sendiri yang urus. Kalau yang gue pake nih, blogger gratis masih .blogspot.com itu numpang sama pihak Google. Dan yang pasti aman ga mungkin kena kerusakan atau kena hack. Perusahaan menggurita gitu, pasti keamanannya udah terjamin sih.
Karena ga punya duit dan masih pengen punya blog yang kelihatan lebih "profesional" tanpa harus bayar, makanya gue belajar coding. Tapi sungguhan, praktek dan tutorialnya jauuhh banget. Ternyata susah.
Btw, blog ini udah ada dari tahun 2018. Dulu gue buat cuma untuk iseng-iseng karena pada saat itu gue lagi di Bogor, dan kurang bersosialisasi (tapi temen gue disana banyak lho ya), dan alasan lainnya karena gue lebih suka nulis daripada ngomong. Terlebih pada tahun itu, tahun-tahun tersulit yang gue lalui. Sampe ada postingan khusus tentang curhatan ga penting yang purely, curcol doang. Namanya CUCUSAPI (CUrhat-CUrhat SAmpai PIngsan) boleh mampir.. 😁😁
Oke, pada postingan kali ini gue mau bahas tentang.. mungkin lebih mengarah ke about marriage kali ya. Seri about marriage lainnya boleh temen-temen baca... Gak juga gapapasi.
Oke let's dive in!
Dulu waktu masih SMP, gue udah mulai suka ngebahas tentang topik-topik seputar kehidupan gitu ceilehh. Temen ngobrol gue dulu Hadromi si Ketua OSIS yang cukup agamais. Sambil nongki di warung Mama Aboy dan pesen mie soto rebus plus es teh manis tanpa diaduk (ini moment dimana sahabat gue ini lagi ultah), kita ngobrolin tentang jodoh. Dan pertanyaan dia yang terus nempel dan kebawa sampe sekarang itu adalah
"Sebenarnya definisi dari jodoh itu apa sih? Hanya bisa dibuktikan kalau dua orang itu berhasil menikah? Terus orang yang udah menikah banyak dan bisa aja cerai tuh, terus jodoh itu apa?".
Gue juga belum tau sih jodoh itu seperti apa. Ada yang punya hubungan tapi ga sampai menikah, dibilang bukan jodohnya. Ada yang udah menikah, tapi malah cerai, dibilang bukan jodohnya juga. Ada juga yang sudah menikah, tapi menikah lagi, jadi jodohnya lebih dari satu ya?
Makin gue gede, gue banyak jatuh cinta sama orang. And yup! Gue beberapa kali pacaran.
Sorry potong ya, orang mungkin dulu gaada ekspektasi kalo seorang Eneng Iyul ini bisa ngomong dengan santai pakai kalimat sompral gue-elu begini. Terlebih gue anaknya Bapak. Yang harusnya, kalau kata orang tuh alim, polos, ga macem-macem. Tapi sungguhan, gue itu anaknya memang sopan, ramah, murah senyum, but in some cases I also realized oh ternyata aku emosian ya, mudah ke-triger orang tapi kadang juga bisa jadi orang yang super malu buat speak up dan menyuarakan pendapatnya. Dan yang paling gue ga suka adalah orang yang suka mengait-ngaitkan gue dengan latar belakang Bapak.
Aku harus bilang sih, walaupun aku anaknya Bapak, aku adalah diri pribadi aku sendiri. Diriku adalah diri aku sendiri.
Tapi balik lagi, bagaimana kamu menilai aku itu tergantung apa yang kamu pikirkan tentang aku. Its yours.
Just it.
Gue akhir-akhir ini lagi belajar untuk tidak mempedulikan anggapan orang lain tentang gue sih, karena repot seriusan haha.
Kalau kamu-kamu mau lebih mengenal saya, ok! Let's discuss! Tentang apapun itu. Karena seseorang menurut saya bisa dinilai dengan cara kita ngobrol langsung dengan orangnya sih. Tanpa mempedulikan status sosial, dilevel mana dia berada, agama apa yang dia anut, di keluarga mana dia dilahirkan, dan lain sebagainya.
Bagaimana kamu bisa melihat nilai seseorang sebagai manusia tanpa memandang atribut apapun yang ada pada orang itu, adalah pemikiran orang yang aku cari selama ini sih.
Balik lagi tentang jodoh.
Ada yang bilang jodoh itu adalah takdir.
Ga jadi nikah sama dia, udah takdir.
Ga jodoh sama dia, udah takdirnya mungkin.
Hmm..
Tapi menurut gue jodoh adalah takdir itu cuma 99%-nya sih. Dan yang paling menentukan itu 1%-nya. Yaitu diri kita sendiri. Mau nikah misalnya, bimbang, ragu, ya keputusan akhir ada di diri kita sendiri.
Tapi menurut gue jodoh adalah takdir itu cuma 99%-nya sih. Dan yang paling menentukan itu 1%-nya. Yaitu diri kita sendiri. Mau nikah misalnya, bimbang, ragu, ya keputusan akhir ada di diri kita sendiri.
Pada akhirnya kamulah yang membuat keputusan kehidupan apa yang akan kamu jalani nantinya. Bersama siapa kamu akan menjalaninya.
Karena pengalaman 3 kali putus cinta, jadi pertanyaan tentang "apa sih definisi sebenarnya dari jodoh" mulai gue temuin potongannya. MAYBE...
Jodoh adalah apa yang kita usahakan untuk itu. Hm, mungkin itu yang aku dapat dari 4 tahun pacaran? Atau 4 kali pacaran? Haha
Jodoh itu sebenarnya adalah perasaan mencintai dan mempercayai seseorang melebihi apapun.
Dan dengan polosnya berfikir bahwa perasaan itu adalah takdir. Hingga membawa kedua orang itu menikah.
Sudah menikah, punya keturunan, saling mencintai, mempercayai melebihi apapun.
Tapi apa salah satunya tidak lagi memiliki rasa seperti itu, bisa dikatakan takdir juga?
Ada yang bercerai, ada yang menikah lagi, dan apa masih bisa dikatakan itu takdir dan bilang itu Tuhan yang mau?
Boom! Love is blind!
Jangan sampai salah pilih jodoh-mu ya.
Komentar
Posting Komentar