Halo teman-teman, setelah beberapa lama akhirnya saya memberanikan diri untuk memulai kembali menulis blog disini. Selama 6 bulan terakhir saya bekerja di Griya Arum Ayu Local Food yang mengolah produk makanan yang berasal dari bahan-bahan lokal. Selain itu juga disana saya ikut serta dalam sosialisasi pangan lokal melalui beberapa pelatihan yang diadakan disana. Berikut beberapa dokumentasi yang ingin saya bagikan
Pelatihan Pengolahan Pangan Lokal Wanita Tani Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat Bersama PUSPITEK dan ARUM AYU. 23-25 September 2019.
Dalam Rangka Peningkatan Kompetensi Guru Keterampilan Tataboga Program Revitalisasi Vokasi Bersama SK AS-SALAM 02 dan ARUM AYU. 7-11 Oktober 2019.
Bina Kreativitas Perempuan Melalui Pelatihan Tataboga Pangan Lokal Dalam Rangka Meningkatkan Peran Serta dan Kesetaraan Gender Bersama DPMP3AKB KOTA TANGSEL dan ARUM AYU. 17-28 Februari 2020.
Ketiganya adalah pengalaman yang sangat berkesan bagi saya, bisa bertemu Mama-Mama dari Papua yang semangatnya luar biasa ingin mengetahui dan bisa mengolah pangan lokal terutama sagu yang melimpah disana untuk menjadi produk yang lebih bernilai ekonomis membuat saya iri dan ingin rasanya saya memiliki rasa semangat seperti itu juga.
Selain itu juga dapat bertemu dengan guru-guru hebat, tangguh dan sangat luar biasa dari SKH AS-SALAM, tidak kalah berkesannya bagi saya. Terlebih bisa memiliki kesempatan dua kali dipertemukan dengan anak-anak murid luar biasa ini menjadikan saya lebih bersyukur terhadap keagungan ciptaan tuhan dan ingin lebih menghargai ciptaannya. Sedikit tertampar sebetulnya karena dari dua tahun lalu saya mengalami beberapa perasaan tidak berharga 'worthless' dan beberapa gangguan yang menjadikan saya sangat-sangat tertekan, tidak seharusnya saya berfikir seperti itu.
Dan, teman-teman, selama saya bergabung dengan Griya Pangan Lokal ini, banyak sekali seminar dan forum diskusi mengenai pertanian dan juga pangan lokal yang saya ikuti bersama dengan Mbak Arum, seseorang yang saya anggap sebagai atasan sekaligus teman bertukar pikiran dan juga panutan. Ternyata dengan cara berdiskusi dan bertemu banyak orang seperti itu saya bisa belajar banyak hal.
Salah satunya pada saat acara festival desa yang saya ikuti di Bumi Perkemahan Ragunan beberapa bulan lalu, disana saya mendapat kesempatan bertemu dengan seorang jurnalis hebat Bapak Ahmad Arif, yang sekarang sudah menulis dua buku diantaranya "Sagu Papua Untuk Dunia" dan "Sorgum Benih Leluhur Untuk Masa Depan". Keduanya karya yang sangat bagus untuk dibaca. Terlepas dari itu, saya menjadi semakin tertarik dalam bidang pertanian dan ingin semakin tahu tentang pangan lokal.
Pangan lokal di Indonesia ini ternyata sangat beragam lho teman-teman, antara lain Indonesia itu punya singkong, ganyong, gadung, sukun, jagung, sagu, ubi jalar, sorgum/cantel dan masih banyak lagi. Mirisnya adalah warisan leluhur seperti umbi-umbian ini tersingkirkan dan bahkan diabaikan oleh masyarakat dan generasi muda sekarang.
Makanan yang berasal dari bahan-bahan tersebut saat ini masih dianggap sebagai makanan kelas bawah yang pamornya masih kurang bersinar dibandingkan dengan makanan yang berbahan dasar terigu. Masih ada persepsi bahwa produk dari pangan lokal seperti singkong dan ubi adalah makanan orang tidak mampu. Terlebih makanan olahan dari umbi-umbian tersebut masih dikatakan makanan tradisional yang kurang diminati anak muda yang mana kita tahu seperti getuk, mata roda/putri noong, tiwul, klepon, kue talam dan lain sebagainya.
Saya juga pribadi jika disuguhkan dua hidangan, yang satu getuk dan yang satunya adalah cupcake. Saya lebih memilih memakan cupcake daripada getuk yang rasanya menurut mindset saya adalah makanan yang membosankan.
Nah, disinilah peran generasi muda diperlukan. Karena kita perlu menginovasi pangan olahan yang bahannya itu dari bahan Nusantara. Bahan lokal bisa lho dimanfaatkan jadi produk kekinian, kita bisa sekali memanfaatkan kearifan lokal yang kita miliki ini.
Singkong misalnya, harganya berapa sih kalau kita beli mentahan? Saya rasa di Pandeglang ini masih sekitaran Rp 5 ribu-an lah ya, dan itu bisa kita temukan dimana saja.
Coba kalau singkong itu diolah lagi, ga melulu jadi getuk salah satu contohnya yang saya dapatkan dari Arum Ayu yaitu singkong fresh diolah jadi tortila. Dari situ kita bisa mendapatkan nilai lebih dari hasil penjualan juga sekaligus dapat meningkatkan derajat singkong itu sendiri.
Tugas kita.. generasi muda, termasuk saya juga karena saya masih muda adalah bagaimana kita bisa mengemas pangan lokal dengan taste anak muda saat ini. Kenapa harus kita? Ya tentu, karena zaman yang sekarang adalah milik kita generasi milenial yang kisaran usianya 35 tahun ke bawah, tentunya kita bertugas untuk mempertahankan warisan leluhur ini agar tetap ada di masa mendatang.
Juga karena zaman sekarang yang mengharuskan kita untuk lebih kreatif dan inovatif jelas kendalinya ada di kita. Karena generasi muda lebih menguasai media, kita bisa jadi lebih mudah mendapatkan referensi dari YouTube, Pinterest, Instagram, dll.
Selain menjadi peluang, ini juga akan menjadi tantangan bagaimana kita bisa mengubah persepsi masyarakat, terutama pemuda, tentang pangan lokal.
Ketiganya adalah pengalaman yang sangat berkesan bagi saya, bisa bertemu Mama-Mama dari Papua yang semangatnya luar biasa ingin mengetahui dan bisa mengolah pangan lokal terutama sagu yang melimpah disana untuk menjadi produk yang lebih bernilai ekonomis membuat saya iri dan ingin rasanya saya memiliki rasa semangat seperti itu juga.
Selain itu juga dapat bertemu dengan guru-guru hebat, tangguh dan sangat luar biasa dari SKH AS-SALAM, tidak kalah berkesannya bagi saya. Terlebih bisa memiliki kesempatan dua kali dipertemukan dengan anak-anak murid luar biasa ini menjadikan saya lebih bersyukur terhadap keagungan ciptaan tuhan dan ingin lebih menghargai ciptaannya. Sedikit tertampar sebetulnya karena dari dua tahun lalu saya mengalami beberapa perasaan tidak berharga 'worthless' dan beberapa gangguan yang menjadikan saya sangat-sangat tertekan, tidak seharusnya saya berfikir seperti itu.
Dan, teman-teman, selama saya bergabung dengan Griya Pangan Lokal ini, banyak sekali seminar dan forum diskusi mengenai pertanian dan juga pangan lokal yang saya ikuti bersama dengan Mbak Arum, seseorang yang saya anggap sebagai atasan sekaligus teman bertukar pikiran dan juga panutan. Ternyata dengan cara berdiskusi dan bertemu banyak orang seperti itu saya bisa belajar banyak hal.
Salah satunya pada saat acara festival desa yang saya ikuti di Bumi Perkemahan Ragunan beberapa bulan lalu, disana saya mendapat kesempatan bertemu dengan seorang jurnalis hebat Bapak Ahmad Arif, yang sekarang sudah menulis dua buku diantaranya "Sagu Papua Untuk Dunia" dan "Sorgum Benih Leluhur Untuk Masa Depan". Keduanya karya yang sangat bagus untuk dibaca. Terlepas dari itu, saya menjadi semakin tertarik dalam bidang pertanian dan ingin semakin tahu tentang pangan lokal.
Pangan lokal di Indonesia ini ternyata sangat beragam lho teman-teman, antara lain Indonesia itu punya singkong, ganyong, gadung, sukun, jagung, sagu, ubi jalar, sorgum/cantel dan masih banyak lagi. Mirisnya adalah warisan leluhur seperti umbi-umbian ini tersingkirkan dan bahkan diabaikan oleh masyarakat dan generasi muda sekarang.
Makanan yang berasal dari bahan-bahan tersebut saat ini masih dianggap sebagai makanan kelas bawah yang pamornya masih kurang bersinar dibandingkan dengan makanan yang berbahan dasar terigu. Masih ada persepsi bahwa produk dari pangan lokal seperti singkong dan ubi adalah makanan orang tidak mampu. Terlebih makanan olahan dari umbi-umbian tersebut masih dikatakan makanan tradisional yang kurang diminati anak muda yang mana kita tahu seperti getuk, mata roda/putri noong, tiwul, klepon, kue talam dan lain sebagainya.
Saya juga pribadi jika disuguhkan dua hidangan, yang satu getuk dan yang satunya adalah cupcake. Saya lebih memilih memakan cupcake daripada getuk yang rasanya menurut mindset saya adalah makanan yang membosankan.
Nah, disinilah peran generasi muda diperlukan. Karena kita perlu menginovasi pangan olahan yang bahannya itu dari bahan Nusantara. Bahan lokal bisa lho dimanfaatkan jadi produk kekinian, kita bisa sekali memanfaatkan kearifan lokal yang kita miliki ini.
Singkong misalnya, harganya berapa sih kalau kita beli mentahan? Saya rasa di Pandeglang ini masih sekitaran Rp 5 ribu-an lah ya, dan itu bisa kita temukan dimana saja.
Coba kalau singkong itu diolah lagi, ga melulu jadi getuk salah satu contohnya yang saya dapatkan dari Arum Ayu yaitu singkong fresh diolah jadi tortila. Dari situ kita bisa mendapatkan nilai lebih dari hasil penjualan juga sekaligus dapat meningkatkan derajat singkong itu sendiri.
Doc. Tortila Cassava
Juga karena zaman sekarang yang mengharuskan kita untuk lebih kreatif dan inovatif jelas kendalinya ada di kita. Karena generasi muda lebih menguasai media, kita bisa jadi lebih mudah mendapatkan referensi dari YouTube, Pinterest, Instagram, dll.
Selain menjadi peluang, ini juga akan menjadi tantangan bagaimana kita bisa mengubah persepsi masyarakat, terutama pemuda, tentang pangan lokal.










Salut untuk pangan lokal 👍🏻
BalasHapusDukung terus produk pangan lokal kita ya Pak!👍🏻
HapusYa, rupanya di sekitar kita banyak sekali bahan-bahan pangan yang bisa kita olah dengan beragam cara juga beragam inovasi. Congrats eiyulasiah!
BalasHapusBetul, terimakasih dukungannya ☺️
Hapus