Langsung ke konten utama

The Science of Heartbreak





Nah, daripada nyanyi lagu After the Heartbreak dari Brielle Von Hugel sampe urat “ngajepat” terus, kalau kata Kak Rizky dan Kak Cla, lebih baik kita mengendalikan diri dan mencari solusi dalam menghadapi apa yang sedang kita rasakan. Beberapa cara yang aku terapkan adalah:


1. Mendalami filosofi stoicism. Well, ini sudah dari dulu sih. Dalam melakukan sesuatu atau rencana kita harus selalu memikirkan segala sesuatu atau segala kemungkinan terburuknya dan tidak berekspektasi lebih. Dari sini kita bisa lebih menyadari hal apa saja yang bisa kita kontrol dan yang tidak bisa kita kontrol.


2. Berfikir bahwa hal yang kita alami sekarang adalah proses pembelajaran yang bisa membuat diri kita menjadi tumbuh dan berkembang. Kita bisa membuat takdir kita sendiri, bukan malah menjadi korban.


3. Berfikir dan bertindak positif, juga menghindari untuk membuat keadaan menjadi lebih buruk lagi dari ini. Walaupun dalam keadaan seperti ini kita lebih impulsif, lebih gegabah, gampang marah, baperan, kalau bisa memilih untuk tidak berperilaku negatif, lebih baik kita mencoba seperti itu. Tapi, gampang ke-triger orang/suatu masalah dan gampang emosian kayaknya sifat alami ku deh haha!


4. Lakukan hal-hal positif yang bisa naikin mood. Salah satunya yang aku lakukan adalah belajar baking and cooking, karena lebih seneng bikin kue-kue-an, bulan lalu aku makin semangat jualannya! Dan alhamdulillah lebihnya bisa ditabung deh. Dapet duit juga 🤑 yang penasaran mau cobain produk aku, bisa dm ya! Lah malah ngiklan wkwk.


5. Olahraga. Selain sehat buat tubuh, olahraga juga bisa jadi moodboster dikala patah hati lho teman-teman! Kebukti banget. Cobain dari yang simple dulu deh, streching di pagi hari secara rutin. Kalau aku, selalu ikutin SKWAD Fitness. Ya kalau mau drama, lari sambil nangis haha ga kerasa udah berapa kilometer aja yang ditempuh kan wkwkwkk.


6. Makan banyak. Ini efek dari olahraga juga sih kayaknya. Temen-temen tau gak sih? Saat kita makan, tubuh melepaskan hormon endorfin, hormon bahagia. Nah, apalagi kalau makan yang pedes pedes. Makin ketagihan dan bikin semangat makannya kan? Tapi kalau kebanyakan juga malah suka jadi jerawatan huhuhu apa cuma aku yang begitu ya😵

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pangan Lokal

Halo teman-teman, setelah beberapa lama akhirnya saya memberanikan diri untuk memulai kembali menulis blog disini. Selama 6 bulan terakhir saya bekerja di Griya Arum Ayu Local Food yang mengolah produk makanan yang berasal dari bahan-bahan lokal. Selain itu juga disana saya ikut serta dalam sosialisasi pangan lokal melalui beberapa pelatihan yang diadakan disana. Berikut beberapa dokumentasi yang ingin saya bagikan Pelatihan Pengolahan Pangan Lokal Wanita Tani Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat Bersama PUSPITEK dan ARUM AYU. 23-25 September 2019. Dalam Rangka Peningkatan Kompetensi Guru Keterampilan Tataboga Program Revitalisasi Vokasi Bersama SK AS-SALAM 02 dan ARUM AYU. 7-11 Oktober 2019. Bina Kreativitas Perempuan Melalui Pelatihan Tataboga Pangan Lokal Dalam Rangka Meningkatkan Peran Serta dan Kesetaraan Gender Bersama DPMP3AKB KOTA TANGSEL dan ARUM AYU. 17-28 Februari 2020. Ketiganya adalah pengalaman yang sangat berkesan bagi saya, bisa be...

Ada Apa Sih Dengan Gluten di Tepung Terigu??

Apa itu gluten? Ketika saya masih di sekolah, saya belajar sedikit mengenai gluten. Pada saat itu saya hanya mengetahui bahwa gluten sebagai kandungan yang terdapat dalam tepung terigu. Namun belum mengetahui lebih jelasnya kenapa sebaiknya kita mengurangi konsumsi gluten ini. Setelah bergabung dengan Arum Ayu, saya banyak belajar lagi tentang gluten dan pangan lokal. Nah, gluten merupakan senyawa protein yang terdiri dari glutenin dan gliadin, adalah sejenis protein yang terdapat pada gandum dan tepung terigu. Gluten mengandung komponen protein yang disebut peptida. Gandum mengandung peptida. Begitu juga dengan tepung terigu. Bingung kan? Hehehe Oke lebih singkatnya, dalam proses pengolahan makanan, fungsi gluten adalah untuk menghasilkan tekstur yang kenyal, elastis, dan mengembang pada makanan (seperti roti dan kue). Efek elastis, kenyal, dan mengembang tersebut dihasilkan ketika tepung dicampurkan dengan air. Protein gluten akan membentuk jaringan-jaringan yang lengket...

#1

Rasanya sudah cukup aku membicarakan hal yang usang itu. Pengalaman yang memberikan pelajaran, rasa sakit, hal konyol sekaligus malah jadi bahan ketawaan ya kan. Haha. Yang ku fokuskan sekarang adalah keadaan aku, kita, saat ini. Aku yang dimasa lalu pernah dikecewakan berkali-kali, bahkan mungkin sekarang di sudut hati yang paling terpencil masih ada sisa-sisa luka itu. Ya, itu wajar. Mengapa tidak begitu kan, aku berkali-kali terluka hebat dikesalahan yang sama. Sampai akhirnya aku memilih untuk berhenti. Udahlahya. Yang lalu biarlah berlalu. Aku lebih suka menatap masa depan bersama kamu. Cieee.  Terakhir kali, ditanya "kamu baik-baik aja kan?" Jujur aku malah ketawa denger pertanyaan itu. Ya mungkin dulu dulu mah kalo ada yang nanya gitu auto nangesss. Jadi mikir, aku dimasa-masa itu mengusahakan untuk baik-baik aja, tapi sekarang jauh lebih baik dari harapan itu. Banyak hal yang ku syukuri, dengan pengalaman yang nggak enak itu aku menemukan banyak hal baru. Salah satuny...