Hmm, sorry. Ini tentang pola pikir gw aja sih. Mau ngomong sama diri sendiri aja sih. Untuk tidak merasa malu pada masa lalu, tapi hanya menertawakannya sebagai rasa kesyukuran ㅋㅋㅋ
Dulu pernah suka sama si A misal, sekarang secara prestasi duniawi wuidih makin keren gilak. Udah jenius, prestatif, udah mapan, jenjang karirnya dah jelas, ganteng jugaa tapiii... Sekarang dia udah punya istri. Hwahaha
Ada lagi, misal si B, ganteng, berprestasi, bener-bener push limit orangnya, ah ternyata bukan yang kayak gitu juga. Bukan orang yang cuma mengikuti alur doang, ga tegas dan berdiam menunggu waktu.
Satu hal yang membuat rasa awal dari guenya hilang, ketika dia berkata, “...udah sekarang mah shalat jalan dosa jalan, jadi pasrah aja. Kamu aja yang berubah, biarkan aku mah nanti juga dapat hidayah dari Allah.”
Hmm, ah ga ada salah, hanya frekuensi yang sudah beda, dalam pikirku, seharusnya manusia lah yang mencari hidayah, buat bertobat tuh harus kita yang usahakan minta permohonan maaf dari Tuhan, bukan Tuhan yang harus menegurnya dulu baru bertobat. Cinta hari ini bukan lagi tentang perasaan, melainkan ketaqwaan.
Inget. Cinta hari ini berbeda dari cinta hari kemarin.
Pernah banyak suka sama orang, dari yang suka aja, sampai suka banget.
Misal lagi, si C, laki banget, atletis, jiwa pemimpinnya keren, cerdas, giat, mapan, keluarga baik-baik, terkemuka sebagai pemuda shaleh, tapi menel muka tua, ah. Sudahlah, coret.
Atau si D, anak santri, ganteng, rajin, lemah lembut, tapi ga giat untuk menjalani hal-hal duniawi. Hah, sudahlah, bukan itu yang aku mau ternyata.
Lalu ada si E, ga ganteng sih, tapi baik, sabar, santun, giat duniawi dan akhiratnya, tapi…dia ga suka gue ahahah, bukan jodohnya… mungkin Tuhan mendatangkan dia sebagai teladan yang patut ditiru.
Ada si F, keinginannya royal, pekerja keras, jiwa pemimpinnya keren, komitmennya tinggi, tapi alay dan bucin, gelii. Ah! Bukan ini juga berati, ga gamau. Aduuh.
Bukan yang seperti itu semua ternyata, bukan. Ganteng, karirnya bagus, cerdas, gigih, tau agama, tapi agamanya ga aplikatif. Hmm bersyukurlah lagi.
Benar, kadang ngerasa sok cantik dewasa ini. Banyak maunya, sebenernya ga banyak sih. Tapi ya entah, cinta hari ini beda dengan hari kemarin. Bukan tentang suka dengan orang-orang yang baik duniawinya saja, bukan tentang suka dengan orang-orang yang baik akhiratnya saja. Apalagi orang-orang yang mendekati dengan cara menjadi likers setia di socmed atau nge DM di socmed, halah, itumah langsung blacklist.
Terkait sikap dan sifat, kebersihan seorang pria juga masuk kolom penilaian. Bau? Coret! Kucel? Coret! Perokok? Big no no no, Coret! Masih banyak sih. Cuma itu yang paling ga bisa ditoleransi haha.
Haha, entahlah aku ini maunya apa.
Shaleh, lembut, suka memanjakan, gabisa ngebentak orang tapi tegas, cerdas, giat bekerja, sederhana kelihatannya tapi sebenarnya maunya yang royal, ga menel tapi ramah sama semua orang, ga suka pamer, kuat akidahnya, disiplin, wangi, ganteng, tinggi, putih, hormat sama orang tua, humoris, suka anak-anak, ga baperan, berjiwa pemimpin, ga gila duniawi, ga suka ngomongin orang, husnudzhon. Ah banyak wqwq. Emang ada yang macem itu? Yakeles!
Kembaliin aja ke Allah, Allah pasti ngerti maunya Eneng tuh yang kayak gimana. Huehe. Intinya mah yang cukup, dan mau mencukupkan. Mau belajar untuk berakhlak baik. Karena pangkal dari pemahaman ilmu adalah terbentuknya akhlak yang baik.
Komentar
Posting Komentar